IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA POKOK BAHASAN BANGUN RUANG PADA SISWA KELAS VIII SMP N 2 GODEAN

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN  CREATIVE PROBLEM SOLVING DENGAN MENGGUNAKAN  ALAT PERAGA  UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA POKOK BAHASAN BANGUN RUANG  PADA SISWA KELAS VIII SMP N 2 GODEAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)   sekarang ini sedang digalakkan oleh pemerintah. Langkah yang paling penting dilakukan, yaitu dengan pendidikan. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan salah satu sasaran dari program pembangunan di Indonesia yang harus di tempuh oleh semua lapisan masyarakat. Dalam UUD 45 di tegaskan bahwa “tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran”.

Pendidikan merupakan bagian integral pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Pencanangan wajib belajar sembilan tahun adalah salah satu upaya pemerintah untuk memajukan bangsa Indonesia yang jauh ketinggalan dengan bangsa-bangsa lainnya. Dalam UU NO. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi :

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara[1].

 

Matematika merupakan suatu mata pelajaran yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan persekolahan di Indonesia mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan jenjang Perguruan Tinggi.  Karena pendidikan merupakan salah satu hal penting untuk menentukan maju mundurnya suatu bangsa, maka untuk menghasilkan sumber daya manusia sebagai subyek dalam pembangunan yang baik, diperlukan modal dari hasil pendidikan itu sendiri. Khusus untuk mata pelajaran matematika, selain mempunyai sifat yang abstrak, pemahaman konsep yang baik sangatlah penting karena untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasarat pemahaman konsep sebelumnya. Dalam pembelajaran di kelas terdapat keterkaitan yang erat antara guru, siswa, kurikulum, sarana dan prasarana.

Proses  belajar mengajar pada umumnya jarang menggunakan media pembelajaran. Proses belajar mengajar yang demikian akan membuat siswa menjadi jenuh. Penyampaian materi secara konvensional misalnya ceramah, akan membuat siswa jenuh sebagai akibatnya motivasi belajar dan prestasi belajar akan semakin menurun. Dalam hal ini peran media pembelajaran sangat penting, seperti yang dikemukakan oleh Arif S. Sadiman bahwa media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar yang dapat menyalurkan pesan dapat membantu mengatasi hal tersebut.[2] Penggunaan media pembelajaran dapat mempertinggi proses dan hasil pengajaran adalah berkenaan dengan taraf berfikir siswa.[3]

Salah satunya media pembelajaran adalah alat peraga. Alat peraga dalam proses belajar mengajar digunakan dengan tujuan membantu guru agar proses belajar siswa lebih efektif dan efisien.[4] Setiap proses belajar ditandai dengan adanya beberapa unsur antara lain tujuan, bahan, metode dan alat serta evaluasi. Unsur metode dan alat merupakan unsur yang tidak bisa dilepaskan dari unsur lainnya yang berfungsi sebagai cara atau teknik untuk mengantarkan bahan pelajaran agar sampai kepada tujuan. Proses berpikir siswa pada masa SMP memungkinkan dapat mengatasi masalah-masalah yang sangat beraneka ragam secara lebih efektif tetapi masih belum dapat berfungsi secara efisien dalam bidang abstrak.[5] Dalam hal ini peran alat bantu atau alat peraga sangat penting sebab dengan adanya alat peraga ini bahan dapat dengan mudah dipahami oleh siswa.

Dalam pembelajaran matematika, baik guru maupun siswa semakin dituntut mempunyai kemampuan berpikir yang tinggi dan kreatif, kepribadian yang jujur dan mandiri. Sehingga sangat diperlukan dan dilakukan pembelajaran matematika yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan mampu mendidik para siswa sehingga mereka bisa tumbuh menjadi manusia yang berpikir kreatif, mandiri, dan berprestasi.

Berdasarkan hasil diskusi antara peneliti dan guru bidang studi matematika SMP N 2 Godean Yogyakarta yang telah mengamati kegiatan siswa selama ini terutama pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009, ditemukan beberapa permasalahan pada pembelajaran matematika diantaranya:

  1. Proses pelaksanaan pembelajaran matematika khususnya pokok bahasan Bangun Ruang Sisi Datar selama ini masih menggunakan metode ceramah, sehingga siswa kurang mampu mengungkapkan ide/gagasan mereka baik dalam bentuk soal maupun cara penyelesaiannya dan berpartisipasi aktif saat proses pembelajaran, seperti bertanya dan menjawab pertanyaan.
  2. Kurangnya  pemanfaatan alat peraga yang sudah ada, berdampak pada masih rendahnya siswa dalam berfikir kritis dan kreatif juga menjadikan permasalahan tersendiri yang harus segera diselesaikan. Khususnya untuk masalah Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar. Selain belum tersedianya alat peraga yang memadai, guru juga masih kurang terampil dalam memanfaatkan alat peraga yang sudah tersedia.
  3. Prestasi belajar matematika rendah khususnya pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran matematika masih menggunakan metode konvensional dan kurang memanfaatkan alat peraga.

Berbagai permasalahan di atas memerlukan solusi dan penanganan yang tepat agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Salah satu langkah yang akan diambil adalah menggunakan model pembelajaran creative problem solving dengan alat peraga sebagai media pembelajaran. Alasan menggunakan model ini karena pembelajaran dengan berbasis Creative Problem Solving merupakan model pembelajaran yang memusatkan pada pengajaran dan keterampilan pemecahan masalah, yang diikuti dengan penguatan keterampilan.[6] Pada model pembelajaran ini, siswa tidak hanya memecahkan permasalahan dalam matematika tetapi juga dituntut untuk terampil menggunakan alat peraga sebagai media pembelajaran dalam memecahkan masalah tersebut. Dengan menggunakan model pembelajaran ini diharapkan  siswa dapat memperoleh manfaat yang maksimal baik dari proses maupun hasil belajarnya.

Berdasarkan beberapa alasan di atas melalui model pembelajaran creative problem solving dengan menggunakan  alat peraga diharapkan dapat  meningkatkan prestasi belajar matematika pokok bahasan bangun ruang pada siswa kelas VIII SMP N 2 godean.

  1. B.     Identifikasi Masalah.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan sebagai berikut:

  1. Rendahnya nilai hasil belajar matematika siswa kelas VIII B SMP N 2 Godean Sleman tahun Pelajaran 2008/2009.
  2. Penggunaan model pembelajaran matematika di SMP N 2 Godean yang cenderung pada pembelajaran yang konvensional yang menjadikan siswa pasif dalam proses pembelajaran.
  3. Masih banyak siswa yang tidak dapat memecahkan masalah /persoalan secara tepat dalam pembelajaran matematika.

 

 

  1. C.    Batasan Masalah.

Berdasarkan pada latar belakang dan identifikasi masalah maka perlu diberikan batasan masalah agar penelitian ini menjadi lebih terarah. Penelitian ini difokuskan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika di kelas VIII B SMP N 2 Godean melalui penggunaan model pembelajaran creative problem solving dengan alat peraga pokok bahasan bangun ruang.

  1. D.    Rumusan Masalah.

Bertolak dari pembatasan masalah maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikur :

  1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran matematika model Creative Problem Solving (CPS) dengan menggunakan alat peraga pada siswa kelas VIII B SMP N 2 Godean?
  2. Apakah pembelajaran Creative Problem Solving dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan bangun ruang siswa kelas VIII B SMP N 2 Godean?
  3. E.     Tujuan Penelitian
    1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran Creative Problem solving dengan menggunakan alat peraga.
    2. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving.

 

  1. F.     Manfaat Penelitian
    1. Untuk Pihak Sekolah.
      1. Sebagai informasi bahwa penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaran matematika kemungkinan akan lebih efektif dari pada tanpa menggunakan alat peraga.
      2. Sebagai motivasi dalam penyediaan alat peraga yang lebih bervariasi untuk meningkatkan mutu dan kualitas sekolah tersebut.
    2. Untuk Guru Bidang Studi
      1. Sebagai wacana dan informasi bagi guru bidang studi untuk dapat menggunakan media penbelajaran yang lebih tepat, diantaranya dengan menggunakan alat peraga.
      2. Meningkatkan kreatifitas guru dalam memilih media pembelajaran yang lebih tepat sehingga proses belajar mengajar matematika dirasakan siswa lebih menarik dan menyenangkan.
    3. Untuk Siswa
      1. Meningkatkan keaktifan, kreatifitas dan prestasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
      2. Siswa dapat memahami dan menyelesaikan masalah pelajaran matematika dengan mudah, khususnya pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar.
      3. Memberi kenyamanan pada siswa sehingga kegiatan belajar matematika dirasakan siswa lebih rileks dan menyenangkan.

 

  1. Untuk Peneliti
    1. Memberikan sumbangan pemikiran tentang model pembelajaran matematika yang lebih efektif, kreatif dan menyenangkan.
    2. Memberikan informasi bagi peneliti sebagai calon pendidik agar dapat menggunakan media pembelajaran terutama alat peraga yang tepat dalam mengajar matematika.
  2. G.    Tinjauan Pustaka

Penelitian tentang model pembelajaran berbasis Problem Solving dengan menggunakan alat peraga sebagai media pembelajaran ini pernah dilakukan oleh beberapa peneliti, dimana dengan menggunakan alat peraga pembelajaran akan lebih menarik dan tidak membosankan.

Seperti dalam skripsi yang ditulis oleh Erik Kurniawan yang berjudul  Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar  dengan  Menggunakan Alat Peraga Sebagai  Media Pembelajaran Matematika  Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung (Siswa Kelas IX  MTs N Ngemplak Sleman). Menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran matematika dengan siswa yang menggunakan alat peraga secara langsung terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Rata-rata nilai siswa pada akhir pembelajaran adalah 6,68. Hal ini dapat di lihat dari kenaikan nilai effect size pada siklus I, II, yaitu siklus I sebesar 8,88, siklus II sebesar 13,78 yang diuji dengan menggunakan uji-t dan diperoleh hasil nilai thit <ttab yaitu -3,235<2,035, hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran siklus II lebih baik dai siklus I. [7]

Selain itu dalam skripsi Theresia Dyah Wahyu Purwani yang berjudul Optimalisasi Pembelajaran Matematika pokok bahasan geometri dan pengukurannya dengan pendekatan pemecahan masalah (problem solving) di SD Wates IV Magelang. Dalam skripsi tersebut dijelaskan bahwa pembelajaran matematika pokok bahasan geometri dan pengukurannya dengan pendekatan pemecahan masalah (problem solving) di kelas VI SD Wates IV Magelang menjadi lebih optimal. Hal ini ditunjukkan dengan dapat tercapainya daya serap siswa yang tinggi terhadap materi geometri dan pengukurannya. [8]

Adapun penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah mirip dengan penelitian diatas, yaitu pendekatan pembelajaran berbasis pemecahan masalah, tetapi dengan populasi dan sampel yang berbeda. Penelitian ini berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul: Implementasi model pembelajaran creative problem solving dengan alat peraga untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pokok bahasan bangun ruang (siswa kelas VIII) di SMP N 2 Godean Sleman. Penelitian ini akan dilakukan lebih dari satu siklus sampai indikator keberhasilan tercapai. Di mana dalam setiap siklusnya akan dilaksanakan langkah-langkah pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Melalui penerapan pembelajaran CPS diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.

  1. H.    Landasan Teori.
    1. 1.      Pembelajaran Matematika

Pembelajaran dirumuskan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[9] Pembelajaran menurut Oemar Hamalik adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.[10] Manusia diharapkan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik melalui proses pembelajaran.

Istilah matematika berasal dari kata Yunani “mathein” atau “manthenein“, yang artinya mempelajari.[11] Dalam The Little Oxford Dictionary Mathematics diartikan sebagai science of space, number and quantity.[12] Sedangkan matematika mempunyai pengertian yang berbeda-beda menurut para ahli. Salah satunya pengertian matematika menurut James dan James dalam kamus matematika yang ditulisnya, menyatakan bahwa: matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lain yang terbagi dalam tiga bidang, ialah aljabar, analisis, dan geometri.[13]

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan pembelajaran matematika adalah suatu aktifitas yang dilaksanakan oleh manusia dan didukung unsur-unsur tertentu yang saling mempengaruhi dengan  tujuan untuk memahami konsep-konsep dalam bidang aljabar, analisis, dan geometri.

Tujuan dari pembelajaran matematika di SD/SMP/SMA adalah sebagai berikut:

  1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
  2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
  3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
  4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
  5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.[14]

Dalam pembelajaran matematika, salah satu upaya yang dilakukan oleh guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang berbasis masalah (Problem Solving) karena dengan menggunakan model pembelajaran ini dapat memberikan siswa kesempatan seluas-luasnya untuk memecahkan masalah matematika dengan strateginya sendiri dan juga dapat melatih kemampuan analisis siswa yang di perlukan untuk menghadapi masalah-masalah yang di temuinya dalam kehidupan sehari-hari.[15] Sedangkan penggunaan media dalam pembelajaran matematika sangat menunjang, karena dengan menggunakan media pembelajaran siswa lebih mudah memahami konsep matematika yang abstrak.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan perpaduan Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kontektual yang salah satunya ditujukan untuk Sekolah Menengah Pertama,  menyatakan bahwa potensi siswa harus dapat dikembangkan secara optimal dan di dalam proses belajar matematika siswa dituntut untuk mampu :

  1. Melakukan kegiatan penelusuran pola dan hubungan.
  2. Mengembangkan kreatifitas dengan imajinasi, intuisi dan penemuannya.
  3. Melakukan kegiatan pemecahan masalah.
  4. Mengkomunikasikan pemikiran matematisnya kepada orang lain.[16]

Untuk mencapai kemampuan tersebut perlu dikembangkannya proses belajar matematika yang menyenangkan, memperhatikan keinginan siswa, membangun pengetahuan dari apa yang diketahui siswa, menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar, memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, memberikan kegiatan yang menantang, memberikan kegiatan yang memberi harapan keberhasilan, menghargai setiap pencapaian siswa.[17] Selain itu di dalam mempelajari matematika siswa memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda sehingga diperlukan usaha guru untuk: menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga atau media pembelajaran yang menarik perhatian siswa; memberikan kesempatan belajar matematika di berbagai tempat dan keadaan; memberikan kesempatan menggunakan metematika untuk berbagai keperluan; mengembangkan sikap menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan matematika baik di sekolah maupun di rumah; menghargai sumbangan tradisi, budaya dan seni di dalam pengembangan matematika; membantu siswa menilai sendiri kegiatan matematikanya.[18]

Dari kurikulum di atas dapat dikatakan bahwa guru dalam melakukan pembelajaran matematika harus bisa membuat situasi yang menyenangkan, memberikan alternatif penggunaan alat peraga atau media pembelajaran yang bisa digunakan pada berbagai tempat dan keadaan, baik di sekolah maupun di rumah. Sehingga siswa memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam memecahkan masalah

  1. 2.      Creative Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika.

Model Creative Problem Solving (CPS) adalah suatu model pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran dan keterampilan pemecahan masalah, yang diikuti dengan penguatan keterampilan. Ketika dihadapkan dengan suatu pertanyaan, siswa dapat melakukan keterampilan memecahkan masalah (problem solving) untuk memilih dan mengembangkan tanggapannya. Tidak hanya dengan cara menghafal tanpa dipikir, keterampilan memecahkan masalah memperluas proses berpikir. Suatu soal yang dianggap sebagai “masalah” adalah soal yang memerlukan keaslian berpikir tanpa adanya contoh penyelesaian sebelumnya. Masalah berbeda dengan soal latihan. Pada soal latihan, siswa telah mengetahui cara menyelesaikannya, karena telah jelas antara hubungan antara yang diketahui dengan yang ditanyakan, dan biasanya telah ada contoh soal. Pada masalah ini, siswa tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya, tetapi siswa tertarik dan tertantang untuk menyelesaikannya. Siswa menggunakan segenap pemikiran, memilih strategi pemecahannya, dan memproses hingga menemukan penyelesaian dari suatu masalah.[19]

Adapun proses dari model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS), terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Klarifikasi masalah

Klarifikasi masalah meliputi pemberian penjelasan kepada siswa tentang masalah yang diajukan, agar siswa dapat memahami tentang penyelesaian seperti apa yang diharapkan.

  1. Pengungkapan pendapat

Pada tahap ini siswa dibebaskan untuk mengungkapkan pendapat tentang berbagai macam strategi penyelesaian masalah.

  1. Evaluasi dan Pemilihan

Pada tahap evaluasi dan pemilihan ini, setiap kelompok mendiskusikan pendapat-pendapat atau strategi-strategi mana yang cocok untuk menyelesaikan masalah.

  1. Implementasi.

Pada tahap ini siswa menentukan strategi mana yang dapat diambil untuk menyelesaikan masalah, kemudian menerapkannya sampai menemukan penyelesaian dari masalah tersebut. [20]

Dengan membiasakan siswa menggunakan langkah-langkah yang kreatif dalam memecahkan masalah, diharapkan dapat membantu siswa untuk mengatasi kesulitan dalam mempelajari matematika.

Dari uraian tersebut peneliti menyimpulkan bahwa alur berpikir model pembelajaran creative problem solving dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar1. Alur Berfikir Model Pembelajaran Creative Problem Solving

Dari bagan tersebut dapat  dijelaskan bahwa model pembelajaran creative problem solving berawal dari pemikiran :

  1. a.      Pembelajaran Berdasarkan Masalah.

Pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks  bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis  dan keterampilan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka.  Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri. [21]

  1. b.      Aktivitas

Pembelajaran aktif merupakan keadaan dimana siswa dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang dipelajari, tidak hanya duduk diam mendengarkan penjelasan guru saja. Siswa lebih berpartisipasi aktif sedemikian sehingga kegiatan siswa dalam belajar jauh lebih dominan dari pada kegiatan guru dalam mengajar.[22]

Belajar memerlukan aktivitas, tanpa aktivitas belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik. Siswa apabila diberi tugas atau kepercayaan dan mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu sendiri, maka mereka akan senang hati dan penuh kesungguhan akan melaksanakan tugas pada kesempatan itu.[23] Oleh karena itu, dalam pembelajaran siswa hendaknya diberi kesempatan untuk mengerjakan sendiri, mencoba sendiri dan memikir sendiri, dengan demikian akan timbul dengan sendirinya perhatian yang besar, timbul kesenangan dan kepuasan, akibatnya pembelajaran akan menjadi miliknya dan fungsional. Bentuk-bentuk keaktifan tersebut, diwujudkan dalam bentuk kegiatan, seperti: mendengarkan, menulis, membaca, berdiskusi, bertanya, memperhatikan, menyelesaikan atau mengerjakan tugas dan lain sebagainya

  1. c.       Kreativitas

Kreativitas  adalah kegiatan kemampuan atau pola berpikir seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang berguna, dapat dimengerti, dan baru setidaknya bagi individu yang  bersangkutan serta menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, di mana penekanannya pada kuantitas dan ketepatgunaan yang dibuat berdasarkan kombinasi dan informasi, atau unsur-unsur yang sudah ada. Kreativitas atau berpikir kreatif secara operasional dirumuskan sebagai suatu proses yang tercermin dari kelancaran, fleksibilitas dan orisinalitas dalam berpikir.[24]

Dari bagan  diatas juga dapat dijelaskan bahwa model pembelajaran creative problem solving dengan alat peraga merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memiliki tiga unsur pokok:

  1. Mendorong siswa berpikir kritis dan terampil menyelesaikan masalah
  2. Mendorong siswa untuk lebih aktif dengan model pembelajaran ini.
  3. Mendorong siswa untuk kreatif menggunakan alat peraga sebagai media pembelajaran

 

  1. 3.      Prestasi Belajar.

Prestasi adalah bukti keberhasilan usaha yang telah dicapai seseorang. Dengan demikian prestasi belajar merupakan bukti usaha siswa yang dicapai dalam melaksanakan proses pembelajaran. Jadi, prestasi belajar siswa adalah bukti keberhasilan siswa dalam menguasai materi pelajaran matematika yang diwujudkan dengan angka yang sering disebut dengan nilai.

Gagne menyatakan bahwa prestasi belajar dapat berupa ketrampilan-ketrampilan intelektual yang memungkinkan kita berinteraksi dengan lingkungan.[25] Hasil belajar yang lain meliputi informasi verbal, sikap-sikap dan ketrampilan motorik.

Menurut Slameto prestasi belajar diartikan sebagai tinggi rendahnya penguasaan siswa terhadap mata pelajaran.[26] Sebagai hasil dari suatu kegiatan, prestasi belajar matematika tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor kemampuan awal (kognitif, afektif dan psikomotorik), metode pengajaran, sarana prasarana, latar belakang dan sebagainya.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswin Zain, suatu pembelajaran dianggap berhasil bila:[27]

  1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
  2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.

Prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh berbagai hal dan keadaan. Muhibbin Syah menjelaskan bahwasanya keberhasilan siswa dalam belajar dipengaruhi oleh tiga faktor:[28]

  1. Faktor Internal, yakni keadaan atau kondisi jasmani ( fisiologis ) atau rohani (psikologis) siswa. Diantara faktor psikologis siswa yang paling isensial meliputi : tingkat kecerdasan / intelegensi siswa, sikap siswa, bakat, minat dan motivasi siswa.
    1. Faktor Eksternal, yakni kondisi lingkungan siswa. Kondisi lingkungan siswa terdiri atas: faktor lingkungan sosial, seperti guru, teman–teman siswa, orang tua dan lingkungan non sosial, seperti sarana prasarana belajar, tempat tinggal siswa.
    2. Faktor pendekatan belajar ( Approach to Learning ), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi–materi pelajaran.

Seorang guru dalam proses belajar mengajar perlu mengetahui prestasi belajar yang ingin dicapai oleh siswa, agar guru dapat merancang pengajaran secara tepat dan penuh arti. Keberhasilan proses belajar mengajar diukur dari seberapa jauh prestasi belajar yang dicapai oleh siswa. Dengan model pembelajaran yang tepat, penggunaan alat peraga sangat di mungkinkan terjadi perubahan siswa yang positif. Dimana siswa akan menjadi aktif, tidak jenuh, berpikir kreatif dan inovatif.

Sesuatu yang dilakukan tanpa dilandasi niat, kemauan, dan usaha yang keras hanya akan sia-sia dan hasilnya pun tidak maksimal. Hal ini dapat dibuktikan dari siswa yang berkemampuan tinggi dengan prestasi akademik tinggi. Mereka cenderung sangat memperhatikan waktu belajar dan mempunyai cara untuk mengatasi kejenuhan dalam belajar. Mereka juga tidak segan-segan melakukan pembaruan dalam sistem belajar untuk meningkatkan prestasi  belajar.

  1. 4.      Alat Peraga.

Proses belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi yang harus diciptakan oleh guru dan murid. Adakalanya hasil belajar yang diperoleh tidak selalu memuaskan, dengan kata lain tidak terjadi perubahan tingkah laku sebagaimana yang diharapkan. Hal tersebut disebabkan oleh komunikasi yang tidak berjalan lancar, artinya selama komunikasi itu berlangsung kemungkinan terdapat gangguan atau hambatan yang bisa berupa salah penafsiran, perhatian yang tidak terpusat, tidak ada tanggapan yang menyeluruh dan keadaan fisik/ lingkungan belajar yang mengganggu. Untuk mengatasi hal tersebut dapat digunakan alat peraga sebagai media pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi dan bahan ajaran yang akan diperkenalkan kepada siswa. Sehingga menarik perhatian siswa serta bermakna bagi siswa.

Alat peraga dalam proses belajar mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar yang efektif. Dalam interaksi belajar ada beberapa komponen yang harus di penuhi, yaitu:

  1. Tujuan interaksi belajar mengajar yang diterapkan.
  2. Bahan (pesan) yang disampaikan pada anak didik.
  3. Pendidik dan terdidik.
  4. Alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan bahan (materi).
  5. Metode yang digunakan untuk menyampaikan bahan (materi).
  6. Situasi lingkungan untuk menyampaikan bahan (materi) agar tercapai.[29]

Oleh Soetomo disebutkan bahwa alat atau sarana merupakan komponen yang tidak boleh dikesampingkan untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran.

Ada beberapa pengertian alat peraga yang lain, diantaranya:

  1. Yang dimaksud dengan alat peraga adalah segala sesuatu yang digunakan oleh guru untuk memperagakan atau memperjelas pelajaran.
  2. Perumusan yang dibuat oleh Anwar Yasin Med adalah sebagai berikut:

”Alat peraga adalah alat pembantu pendidikan dan pengajaran, dapat berupa perbuatan-perbuatan atau benda-benda yang mudah memberi pengertian kepada anak didik berturut-turut dari perbuatan abstrak sampai kepada benda yang konkrit.”

  1. Mokijat memberikan pengertian tentang alat peraga bahwa, ”alat peraga adalah semua benda yang digunakan dalam proses belajar mengajar atau pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan dalam rangka mempermudah dan memperjelas dalam penyampaian materi pelajaran atau pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan”.[30]

Untuk mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian, dibawah ini merupakan alat peraga yang digunakan dalam penelitian.

  1. Kubus.

Kubus yang digunakan terbuat dari kayu dan kerangkanya terbuat dari besi sedangkan selimutnya dari kertas.

  1. Balok.

Alat peraga yang berupa balok terbuat dari kayu dan ada pula yang terbuat dari kertas.

  1. Limas.

Alat peraga berbentuk limas yang digunakan terbuat plastik.

  1. Prisma.

Alat peraga yang berbentuk prisma, ada yang terbuat dari kayu dan ada pula yang terbuat dari kertas.

  1. 5.      Bangun Ruang

Dalam penelitian ini, pokok bahasan yang di gunakan adalah Bangun Ruang Sisi Datar (BRSD). Bangun ruang sisi datar merupakan salah satu pokok bahasan yang harus dipelajari siswa kelas VIII SMP/ MTs. Bangun ruang sisi datar dalam hal ini terdapat empat macam, yaitu:

  1. Kubus.
  2. Balok.
  3. Limas.
  4. Prisma.

Dalam pokok bahasan bangun ruang sisi datar akan dijelaskan mengenai luas, volume serta unsur-unsur dari keempat bangun ruang di atas.

  1. a.      Kubus.

 

 

 

s

 

s

 

 

Gambar 2.  Kubus

Kubus adalah bangun ruang yang dibatasi oleh enam daerah persegi yang kongruen.

Jika panjang rusuk kubus adalah s, maka :

1)      Luas Kubus

Luas kubus                        =

2)      Volume Kubus

Volume kubus                   =

  1. b.     Balok

 

l

t

 

p

Gambar 3 (Balok)

Balok adalah bangun ruang yang dibatasi oleh enam persegi panjang. Jika panjang balok (p),  lebar balok (l), dan tinggi balok (t), maka :

 

1)      Luas Balok

Luas balok                      = .

2)      Volume Balok

Rumus volume kerucut dapat dinyatakan sebagai berikut:

Volume Balok                =

  1. c.      Limas

Limas adalah bangun ruang yang dibatasi oleh sebuah segi n (sebagai bidang alas) dan bidang-bidang yang berbentuk segitiga dan puncaknya berimpit

 

 

 

 

      Gambar 4 (Limas)

Jika tinggi limas (t), maka :

1)      Luas Limas:

Luas Limas                  = luas alas + luas seluruh bidang sisi tegak

2)      Volume Limas

Volume Limas             =

 

  1. d.     Prisma

Prisma adalah bangun ruang yang dibatasi oleh dua bidang yang sejajar (yaitu bidang alas dan bidang atas).

 

 

 

 

 

 

Gambar 5 (Prisma)

1)      Luas Prisma

Luas prisma                 =

2)      Volume Prisma

Volume Prisma            =

  1. I.       Kerangka Berpikir.

Berdasarkan tujuan penelitian serta kajian teori yang telah diuraikan diatas, maka dikemukakan kerangka pemikiran berikut :

Model pembelajaran Creative Problem Solving merupakan suatu model pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran dan keterampilan pemecahan masalah, yang diikuti dengan penguatan keterampilan. Ketika dihadapkan dengan suatu pertanyaan, siswa dapat melakukan keterampilan dalam memecahkan masalah untuk memilih dan mengembangkan tanggapannya.

Faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai. Namun karena keterbatasan yang dimiliki oleh sekolah maka guru kadang menggunakan media tanpa melakukan suatu inovasi yang membutuhkan kreatifitas. Pemilihan dan penggunaan media yang tepat akan dapat mengoptimalkan kreativitas, aktivitas dan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Kreativitas, aktivitas dan pemahaman siswa yang optimal diharapkan akan meningkat pula pencapaian hasil belajar. Alat peraga merupakan salah satu media pembelajaran yang tepat bila digunakan pada bab bangun ruang sisi datar (Kubus, Balok, Prisma dan  Limas). Oleh karena itu model pembelajaran Creative Problem Solving dengan menggunakan alat peraga diharapkan akan meningkatkan prestasi belajar matematika siswa dan diperkirakan sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika di SMP N 2 Godean kelas VIII semester IV pada pokok bahasan bangun ruang Tahun Ajaran 2008/2009.

 

 

  1. J.      Hipotesis Tindakan

Berdasarkan pada kerangka berpikir maka dapat diambil hipotesis tindakan sebagai berikut: Apabila guru menggunakan pembelajaran model pembelajaran Creative Problem Solving dalam kegiatan pembelajaran matematika maka:

  1. Pelaksanaan pembelajaran matematika menjadi lebih baik. Adapun pembelajaran dapat dikatakan baik jika langkah-langkah dalam model creative problem solving dapat diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga menimbulkan siswa berpikir kreatif. Langkah-langkah dalam pembelajaran dengan model creative problem solving sebagai berikut :
    1. Mengorientasikan siswa pada masalah
    2. Mengorganisir siswa untuk belajar
    3. Membantu siswa memecahkan masalah
    4. Mengembangkan dan menyajikan hasil pemecahan masalah
    5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
    6. Dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan  atau soal matematika.
  2. K.    Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian mengenai “Implementasi Model Pembelajaran Creative Problem Solving Dengan Menggunakan Alat Peraga Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Pokok Bahasan Bangun Ruang Pada Siswa Kelas VIII SMP N 2 Godean,” merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas atau disebut juga Classroom Action Research CAR).

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik-praktik pembelajaran tersebut dilakukan.[31] Penelitian Tindakan Kelas sebagai penelitian yang bertradisi kualitatif dengan latar atau setting yang wajar dan alami yang diteliti, memberikan peranan penting kepada penelitinya yakni sebagai satu-satunya instrumen karena manusialah yang dapat menghadapi situasi yang berubah-ubah dan tidak menentu, seperti halnya banyak terjadi di kelas.[32] Penelitian Tindakan Kelas mempunyai dampak langsung dalam bentuk perbaikan dan peningkatan profesionalisme guru dalam mengelola proses belajar mengajar di kelas atau implementasi berbagai program di sekolah dengan mengkaji berbagai indicator keberhasilan proses dan hail pembelajaran yang terjadi pada siswa atau keberhasilan proses dan hasil implementasi berbagai program sekolah.

Penelitian tindakan kelas ini merupakan penelitian tindakan kolaboratif, di mana peneliti bergabung secara langsung dengan guru mata pelajaran matematika dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini bertujuan agar peneliti mengetahui keadaan kelas secara langsung, sehingga dapat mengusahakan kekurangan-kekurangan yang ada pada praktek pembelajaran. Dengan demikian terjalin hubungan berupa mitra kerja antara peneliti dengan guru mata pelajaran matematika yang sama-sama memikirkan pemecahan dari persoalan-persoalan yang ada di kelas.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif, yang mana pengambilan data diambil secara alami berupa kata-kata atau gambar. Sedangkan penyusunan desain dilakukan terus menerus sampai didapatkan kesimpulan hasil yang setara sesuai dengan kenyataan.

  1. L.     Tempat dan waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII B SMP N 2 Godean Sleman, sedangkan waktunya adalah pada semester genap tahun ajaran 2008/2009.

  1. M.   Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII B SMP N 2 Godean Sleman sebanyak 36 siswa.  Adapun objek penelitian ini adalah pelaksanaan pembelajaran matematika dengan salah satu model pembelajaran, yaitu Creative Problem Solving (CPS) menggunakan alat peraga sebagai media pembelajaran pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar.

  1. N.    Desain Penelitian

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (cyclical) yang terdiri dari 4 tahap.[33]

 

 

 

 

 

Gambar 6: Kajian berdaur 4 tahap PTK

Demikian juga menurut Kurt Lewin dalam penelitian terdiri dari empat komponen  yaitu:

  1. Perencanaan (Planning)
  2. Tindakan (Acting)
  3. Observasi (Observing)
  4. Refleksi (Reflecting)

Model (desain) yang digunakan dalam penelitian ini adalah model spiral dari Kemmis dan Taggart, yang mana terdapat tiga komponen, yaitu: perencanaan , tindakan (acting) dengan observasi (observing), dan Refleksi. Menurut Kemmis & Taggart komponen tindakan (acting) dengan observasi (observing) dijadikan satu karena pada kenyataannya kedua komponen tersebut merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan karena kedua kegiatan haruslah dilakukan dalam satu kesatuan waktu. Begitu suatu kegiatan berlangsung kegiatan observasi harus dilakukan dalam satu kesatuan waktu.[34]

 

 

Adapun model penelitian tindakan digambarkan sebagi berikut:[35]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam beberapa siklus. Penelitian dapat dihentikan apabila tujuan yang diharapkan sudah tercapai. Penelitian juga dapat dihentikan apabila diperoleh suatu data jenuh yakni data yang statis, pembelajaran tidak mengalami perubahan yang signifikan, atau apabila terjadi hal-hal yang menyebabkan penelitian harus dihentikan, misalnya kebijakan dari sekolah.

Tujuan penelitian ini dapat dikatakan tercapai apabila dalam proses pembelajaran matematika dengan model pembelajaran Creative Problem Solving dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di kelas VIII B SMPN 2 Godean sudah terwujud diatas KKM sebesar 65 %. Persentase ini diambil atas kesepakatan peneliti dengan guru bidang studi matematika yang didasarkan pada Kriteria Ketuntasan Mengajar (KKM) di sekolah tersebut serta dengan melihat kondisi dan kemampuan siswa.

  1. O.    Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaan lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah.[36]

Pada penelitian ini peneliti menggunakan beberapa instrumen diantaranya:

  1. Lembar Kerja Siswa (LKS)

Merupakan lembaran soal latihan yang dibuat peneliti dan didiskusikan kepada guru sebagai semua refleksi terhadap kepahaman siswa dan keterampilan siswa.

  1. Lembar Observasi

Lembar observasi ini bertujuan untuk melihat ketercapaian rencana tindakan. Adapun lembar observasi ini ditujukan kepada guru untuk mengamati pelaksanaan pembelajaran matematika dengan model Creative Problem Solving selama proses belajar.

Lembar observasi ini merupakan lembar yang berisi gambaran keterlaksanaan pembelajaran matematika dengan model creative problem solving berbantuan alat peraga  yang tertuang juga dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

Kisi-kisi lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Kisi-Kisi Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran

 

Aspek yang diamati

Indikator

Butir/ poin

Pendahuluan Guru melakukan apersepsi 1a, 1b, 1c, 1d
Inti (aktivitas pembelajaran) Mengorientasikan siswa pada masalah 2a
Mengorganisir siswa untuk belajar 2b
Membantu siswa memecahkan masalah 2c, 2d
Mengembangkan dan menyajikan hasil pemecahan masalah 2e, 2f
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah 2g, 2h
Penutup Guru menguatkan kesimpulan yang diperoleh sesuai hasil kerja kelompok maupun individu 3a
Guru memberikan PR/ tugas yang berkaitan dengan materi yang dibahas 3b
Guru menginformasikan materi selanjutnya dan meminta siswa untuk mempelajari dirumah 3c
  1. Angket

Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya-jawab dengan responden).[37] Angket ini digunakan untuk mengetahui peningkatan proses pelaksanaan pembelajaran yang berupa pernyataan siswa terhadap aktifitas belajar matematika dengan model  Creative Problem Solving yang berbantukan  alat peraga.

 

  1. Catatan Lapangan

Catatan lapangan merupakan catatan secara rinci mengenai keadaan yang terjadi selama berlangsungnya penelitian. Tujuannya adalah mengumpulkan data dan nantinya sebagai refleksi terhadap keabsahan data dalam penelitian kualitatif atau data-data yang diperoleh dari data lain.

  1. Wawancara tak terstruktur

Wawancara ini dilakukan di luar jam pelajaran dan diberikan peneliti terhadap beberapa siswa tertentu. Adapun isinya mengenai aktifitas, tanggapan, dan respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan model pembelajaran Creative Problem Solving.  Wawancara juga dilakukan oleh peneliti terhadap guru bidang studi matematika untuk mendapatkan tanggapan guru tentang pembelajaran matematika model creative problem solving

  1. Soal Evaluasi

Soal eveluasi berupa soal ulangan blok sebagai alat untuk mengukur kompetensi siswa terhadap pelajaran matematika. Evaluasi diberikan karena untuk mendapatkan data hasil prestasi belajar siswa.

  1. Dokumentasi

Dokumentasi berupa foto yang digunakan untuk menggambarkan secara visual kondisi proses pembelajaran berlangsung.

 

 

 

  1. P.     Validasi Data

Validasi data merupakan salah satu langkah untuk mendapat derajat keterpercayaan dalam sebuah penelitian.[38] Data-data yang telah didapatkan divalidasi dengan melakukan perpanjangan waktu di lapangan, member check, triangulasi, dan expert opinion. Melakukan perpanjangan waktu di lapangan artinya penelitian dilakukan beberapa kali sampai didapatkan data yang stabil. Member check yaitu memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang diperoleh selama observasi atau wawancara dari nara sumber, apakah keterangan, informasi, dan penjelasan itu tetap sifatnya atau tidak berubah sehingga dapat dipastikan keajegannya dan data itu terperiksa kebenarannya[39] Triangulasi dilakukan dengan membandingkan data menyilangkan data dari tiga sudut pandangan yakni guru, siswa, dan peneliti baik berupa data hasil observasi, data hasil pengisian angket, dan diperkuat dengan data dari catatan lapangan, wawancara tak terstruktur, maupun dokumentasi. Expert opinion yaitu meminta nasehat kepada pakar, dalam hal ini adalah pembimbing. Pembimbing akan memeriksa semua tahapan  penelitian, memberikan arahan atau judgements terhadap masalah-masalah penelitian yang terjadi.[40]

  1. Q.    Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan adalah analisis data secara deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data hasil obervasi tentang proses pembelajaran, hasil pengisian angket, dan catatan lapangan. Data tambahan sebagai pertimbangan yang diperoleh dari wawancara tidak terstruktur dengan siswa, LKS dan foto-foto saat pembelajaran. Data-data yang telah diperoleh selanjutnya dianalisis dalam beberapa tahap yaitu :[41]

  1. Pengumpulan Data

Tahap ini dilakukan mulai dari awal penelitian. Peneliti mengumpulkan semua informasi dan keterangan yang didapatkan di lapangan.

  1. Reduksi Data

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah merangkum data, memilah data kemudian memilih data yang berkaitan dengan penelitian serta menghapus data-data yang tidak terpola.

  1. Display data

Data yang telah ditriangulasi disajikan dalam bentuk tabel sehingga mudah dibaca dan dipahami baik secara keseluruhan maupun secara bagian-bagiannya. Untuk data dalam bentuk angket dihitung persentase dengan rumus:

Indikator keberhasilan penelitian merupakan sesuatu yang digunakan sebagai ukuran berhasil tidaknya suatu penelitian. Hasil persentase tersebut kemudian dikualifikasikan berdasarkan interval persentase keberhasilan berikut ini:

 

Table 2. Persentase keberhasilan

No

Jumlah Persen (%)

Skor

1

0      – 33%

Kurang

2

34% – 67%

Sedang

3

68% – 100%

Baik

 

Adapun data bentuk tes atau soal evaluasi dianalisis/ dihitung persentase yang digunakan untuk mengetahui prestasi belajar, dengan menggunakan rumus :

  1. Kesimpulan

Setelah dianalisis, data yang diperoleh diambil kesimpulannya apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai atau belum, apabila belum maka penelitian dilanjutkan. Namun apabila tujuan pembelajaran sudah tercapai maka penelitian dapat dihentikan.

I. Indikator Keberhasilan

Komponen-komponen yang menjadi indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Pelaksanaan pembelajaran Creative Problem Solving dengan menggunakan alat peraga dikatakan berhasil jika  langkah-langkah dalam proses belajar mengajar dengan model ini dapat diterapkan oleh guru dan siswa  untuk menyelesaikan masalah.
  2. Siswa dianggap meningkat prestasi belajarnya setelah pembelajaran, apabila prestasi telah mencapai rata-rata ketuntasan belajar 65 % dan pada siklus berikutnya terus meningkat.

REFERENSI :

Arif S. Sadiman, Media Pendidikan, (Jakarta: CV Raja Grafindo Persada, 1996).

Erik Kurniawan,”Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar  Dengan  Menggunakan Alat Peraga Sebagai  Media Pembelajaran Matematika  Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung (Siswa Kelas IX  Mts N Ngemplak Sleman).”, Skripsi Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008.

 

George Ostler, The Little Oxford Dictionary, (Oxford: Oxford University Press,1990)

 

Ibnu Yusuf Kurniawan, “Upaya Mewujudkan PAKEM melalui Pembelajaran Kooperatif Model STAD pada Pelajatran Matematika Siswa Kelas X MAN Ngawi”, dalam proposal skripsi program studi pendidikan matematika, tadris MIPA, fakultas tarbiyah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2006.

 

Ibrahim, Muslimin, Pembelajaran Berdasarkan Masalah, (Surabaya: UNESA-University Press, 2000).

 

Jahara, Siregar, “Kontribusi Sikap Terhadap Matematika Berpikir Kreatif  Dan Aktivitas Siswa Terhadap Prestasi Belajar  Matematika Kelas I SMA Negeri I Pringsewu Kabupaten  Tanggamus, di  akses di  http://www.ialf.edu/bipa/jan2003., 30 Maret 2009, 14.00

 

Marpaung.Pendekatan Realistik dan SANI Dalam Pembelajaran Matematika.Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pendidkan Matematika di USD tgl 14-15 November 2001.

 

Moch. Masykur Ag dan Abdul Halim Fathani, Mathematical Inteligence, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2007).

 

Moekijat, Kamus Pendidikan dan Pelatihan, (Bandung: Mandar Maju, 1993).

 

Mohamad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, (Bandung: Pustaka BaniQuraisy, 2004)

 

Mohammad Asikin Hidayat, Pembelajaran Matematika untuk Pendidikan Dasar, makalah disampaikan dalam inservice training KKG-MGMP, Semarang  2001.

 

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.

 

Mulyasa, E,” Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan)”,( Bandung: Remaja Rosdakarya,2005),hlm 24-29.

 

Muslich, KTSP: Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007).

 

Nana Sudjana dan Ahmad Rifai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2002).

Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1987).

Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995).

 

Pasal 1 ayat 1 UU No. 20 Tahun 2003 SisDikNas

 

Pepkin K.L, “Creative Problem Solving In Math”, di  akses di  http://www.uh.edu/hti/cu/2004/v02/04., 20 Agustus, 2008, 18:51

 

Prof. Dr. Nana Syaodih S., Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005).

 

Prof. Dr. Nana Syaodih S., Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005).

 

Ratna Wilis D, Teori-Teori Belajar.  ( Jakarta : P2LPTK, 1989).

 

Rochiati Wiriaatmadja, “Metode Penelitian Tindakan Kelas” (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006)

 

Slameto, Evaluasi Pendidikan. ( Jakarta : Bina Aksara, 1988).

 

Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, (Surabaya: Usaha Nasional,…).

 

Sri Wardani, “Prinsip Penilaian Pembelajaran Matemtika SMP Berbasis Kompetensi”, Makalah yang disampaikan pada Diklat Guru Pengembang SMP Wilayah Indonesia Timur Jenjang Dasar tanggal 22 September s.d. 5 Oktober 2006 di PPPG Matematika Yogyakarta.

 

Subagya, Handout Dasar-Dasar Perkembangan Peserta Didik, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2006).

 

Suharsimi Arikunto, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006).

 

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2002).

 

Suyitno, Amin, Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika.(Semarang: Pendidikan Matematika FMIPA UNNES, 2000).

 

Syaiful Bahri Djamaroh dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar.  (Jakarta : Rineka Cipta, 2002).

 

Theresia Dyah Wahyu Purwani ,”Optimalisasi Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Geometri Dan Pengukurannya Dengan Pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving) di SD Wates IV Magelang.”, Skripsi Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2005.

 

Tim Pelatih Proyek PGSM, Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), (Jakarta: Departemen P dan K Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangn Guru Sekolah Menengah, 1999).

 

Tim Pelatih Proyek PGSM, Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah).

 

Tim, Media Pembelajaran Penulisan Karya Ilmiah dan PTK, (Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Nasional, 2004).

 

Widiyastuti, Wahyu,”Eksperimentasi Pengajaran Matematika dengan Metode Penemuan melalui Tanya Jawab pada Pokok Bahasan Teorema Pythagoras Ditinjau dari Aktivitas dan kreativitas Belajar Siswa”, dalam  skripsi program studi pendidikan matematika, UMS Surakarta, 2003, hlm 1.

 

Wiriaatmadja, Rochiati, Metode Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2006).



[1] Pasal 1 ayat 1 UU No. 20 Tahun 2003 SisDikNas

[2] Arif S. Sadiman, Media Pendidikan, (Jakarta: CV Raja Grafindo Persada, 1996).

Hal 14

[3] Nana Sudjana dan Ahmad Rifai, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2002). Hal 3

[4] Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1987). Hal 99

[5] Subagya, Handout Dasar-Dasar Perkembangan Peserta Didik, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2006). Hal 13

[6] Muslich, KTSP: Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007). Hal 221

[7] Erik Kurniawan,”Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar  Dengan  Menggunakan Alat Peraga Sebagai  Media Pembelajaran Matematika  Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung (Siswa Kelas IX  Mts N Ngemplak Sleman).”, Skripsi Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008.

[8] Theresia Dyah Wahyu Purwani ,”Optimalisasi Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Geometri Dan Pengukurannya Dengan Pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving) di SD Wates IV Magelang.”, Skripsi Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2005.

[9] Mohamad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, (Bandung: Pustaka BaniQuraisy, 2004), hlm. 7.

[10] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 57.

[11] Moch. Masykur Ag dan Abdul Halim Fathani, Mathematical Inteligence, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2007), hlm. 42.

[12] George Ostler, The Little Oxford Dictionary, (Oxford: Oxford University Press,1990), hlm. 333

 

[13] Ibnu Yusuf Kurniawan, “Upaya Mewujudkan PAKEM melalui Pembelajaran Kooperatif Model STAD pada Pelajatran Matematika Siswa Kelas X MAN Ngawi”, dalam proposal skripsi program studi pendidikan matematika, tadris MIPA, fakultas tarbiyah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2006, hlm. 11.

[14] Sri Wardani, “Prinsip Penilaian Pembelajaran Matemtika SMP Berbasis Kompetensi”, Makalah yang disampaikan pada Diklat Guru Pengembang SMP Wilayah Indonesia Timur Jenjang Dasar tanggal 22 September s.d. 5 Oktober 2006 di PPPG Matematika Yogyakarta, hlm: 12.

[15] Yaya S. Kusumah, “Model-model Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif dan Afektif  Siswa Sekolah Menengah” Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Matematika yang diselenggarakan  oleh Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tanggal 12 Oktober 2004, hal: 2.

[16] Ibid. Hal: 8

[17] Ibid. Hal: 5

[18] Ibid. Hal: 6

[19] Suyitno, Amin, Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika.(Semarang: Pendidikan Matematika FMIPA UNNES, 2000). Hal. 34

[20] Pepkin K.L, “Creative Problem Solving In Math”, di  akses di  http://www.uh.edu/hti/cu/2004/v02/04., 20 Agustus, 2008, 18:51

[21] Ibid. Hal: 7

 

[22] Setiawan, “Strategi Pembelajaran Matematika yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)” Makalah disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SMA Jenjang Dasar tanggal 6 s.d. 19 Agustus 2004 di PPPG Matematika Yogyakarta, hlm. 6.

[23] Agus Mirwan, “Teori Mengajar“, (Yogyakarta: Sumbangsih Offset, 1989), hlm. 11.

 

[24] S.C. Utami munandar, Kreativitas dan Keberbakatan, ( Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002) ,hlm. 95.

[25] Ratna Wilis D, Teori-Teori Belajar.  ( Jakarta : P2LPTK, 1989). Hal 177-178

[26] Slameto, Evaluasi Pendidikan. ( Jakarta : Bina Aksara, 1988). Hal. 60

[27] Syaiful Bahri Djamaroh dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar.  (Jakarta : Rineka Cipta, 2002). Hal. 137.

[28] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, hal. 132 –138.

[29] Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, (Surabaya: Usaha Nasional,…). Hal 4

[30] Moekijat, Kamus Pendidikan dan Pelatihan, (Bandung: Mandar Maju, 1993). Hal…

[31] Tim Pelatih Proyek PGSM, Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah), hlm. 6

[32] Rochiati Wiriaatmadja, “Metode Penelitian Tindakan Kelas” (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm.96

[33]  Tim Pelatih Proyek PGSM, Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), (Jakarta: Departemen P dan K Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangn Guru Sekolah Menengah, 1999), hlm: 6.

 

[34] Tim, Media Pembelajaran Penulisan Karya Ilmiah dan PTK, (Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Nasional, 2004), Hal. 25

[35] Suharsimi Arikunto, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006).

Hal. 16

[36] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2002). Hal. 136

[37] Nana Syaodih S., Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005). Hal. 219

[38] Rochiati Wiriaatmadja, Metode Penelitian ………………………… hlm. 169.

[39] Ibid, hlm.168

[40] Ibid, hlm.171

[41] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, kualitatif dan R & D (Bandung:Alfabeta, 2007). Hlm.337

DALAMNYA DIMENSI KETUHANAN DALAM PERADABAN DUNIA

DALAMNYA DIMENSI KETUHANAN DALAM PERADABAN DUNIA

Oleh : Nuryadi, S.Pd.Si

 

Maksud dari dimensi Ketuhanan yaitu, bahwa sumber dan tujuan peradaban dunia adalah Ketuhanan. Disisi lain tujuan Ketuhanan dan peradaban dunia tersonifikasi dari harapan terhadap keridhaan Allah, mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Setiap muslim harus menjadi hamba yang ikhlas dan ridha kepada Allah SWT. Sehingga dia akan beruntung dengan balasan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, menuruh kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah” (Ali Imron :110)

Allah juga berfirman,

“Katakanlah : sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi_nya. Dan itulah yang diperintahkan kepadaku. Dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah.”(Al-An’am :162-163)

Untuk itu, tidaklah heran jika kita mendapatkan motif agama dan tujuan ketuhanan menjadi penggerak serta pemandu asasi bagi peradaban dunia. Al-Qur’an telah mengajarkan dua hal fundamental :

  1. Membaca. Membaca adalah kunci ilmu. Sedangkan ilmu adalah fondasi pertama peradaban.
  2. Membaca harus disertai dengan nama Allah. Karena, Dialah pencipta alam dan manusia, serta pendidik dan guru yang mengajarkan hal yang belum diketahui oleh manusia. Agar mereka memulai seluruh aktivitas  dengan nama Allah. Setiap perkara yang tidak dimulai dengan nama Allah menjadi sia-sia.

Ulama menegaskan bahwa wahyu dan akal adalah dua alat petunjuk untuk mencapai kebenaran. Dalam buku yang berjudul “Adz-Dzari’ah Ila Makarim Asy-Syari’ah,” Ar-Raghib Al-Ashfahani menulis, “ Dalam ciptaan-Nya, Allah mempunyai dua utusan: pertama: Internal yaitu akal; kedua: Eksternal, yaitu Nabi. Tidak ada seorang pun yang berhak mengambil utusan internal tetapi meninggalkan utusan Eksternal. Utusan internal bisa mengetahui kebenaran utusan eksternal.

Untuk itulah Allah mengajak orang yang meragukan keesaan-Nya dan kebenaran utusan-Nya untuk menggunakan akal, yaitu menyuruh orang tersebut untuk minta tolong kepada akal. Akal adalah pemimpin, sedangkan agama adalah pendukung. Kalaulah tanpa akal, agama tidak akan ada. Serta kalaulah tanpa agama, akal akan menjadi bingung. Seperti firman Allah :”Keduanya adalah cahaya diatas cahaya” (An Nur:35)

Dengan hal itulah peradaban dunia harus berdiri diatas agama dan akal. Juga dengan tujuan yang selalu berkaitan untuk menolong dan berbakti kepada agama serta mengharap ridha Allah. Dengan demikian, nilai Ketuhanan dan agamapun mengakar dengan kuat di dalam kehidupan serta peradaban dunia. Dalam peradaban itulah bumi bisa berhubungan dengan langit, dunia dengan akherat, materi dengan ruhani, dan makhluk dengan Sang pencipta.

 

 

 

DESIGN EKSPERIMEN DAN ANALISIS EKSPERIMEN

DESIGN EKSPERIMEN DAN ANALISIS EKSPERIMEN

 

  1. A.      Penelitian Eksperimen

Petunjuk penyusunan laporan penelitian eksperimen memuat bab-bab sebagai berikut : Bab I Pendahuluan, Bab II Kajian Pustaka, Bab III Cara Penelitian, Bab IV Hasil peneltian dan Pembahasan, dan Bab V Kesimpulan dan Saran.

  1. 1.    Pendahuluan

Bab Pendahuluan memuat komponen-komponen : (a) latar belakang masalah, (b) perumusan masalah, (c) tujuan penelitian, (d) manfaat penelitian, dan (e) definisi operasional.

  1. Latar belakang masalah, berisi uraian tentang hal-hal atau kondisi yang melatarbelakangi masalah, antara lain berupa uraian tentang kesenjangan antara situasi yang ada dengan situasi yang diharapkan, serta uraian mengenai perlu dan pentingnya masalah tersebut diteliti.
  2. Perumusan masalah, berisi pernyataan tentang masalah yang akan diteliti. Secara operasional masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan, yang menggambarkan  hubungan kausal korelasional atau kausal komparatif.
  3. Tujuan penelitian, berisi uraian tentang hasil yang akan dicapai melalui penelitian ini.
  4. Manfaat penelitian, berisi uraian tentang manfaat yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini, baik untuk kepentingan teoritis maupun praktis.
  5. Definisi operasional, berisi uraian tentang rumusan secara operasional tentang variabel-variabel yang akan diteliti.
  6. 2.    Kajian Pustaka

Bab kajian pustaka uraian tentang (a) kajian teoritik, (b) kerangka pemikiran, dan (c) hipotesis atau pertanyaan penelitian.

  1. kajian teoritik dan kajian terhadap hasil-hasil penelitian sebelumnya yang relevan.
  2. Kerangka pemikiran atau model hubungan ang dikonsepsikan.
  3. Hipotesis (jika ada), uraian dalam kalimat deklaratif yang menyatakan hubungan antar variabel.

 

 

 

  1. 3.    Metode Peneltian

Bab cara peneltitan, memuat komponen-komponen : (a) wilayah generalisasi, (b) populasi dan sampel, (c) desain penelitian, (d) instrumen penelitian, (e) metode /teknik pengumpulan data, dan (f) analisis data.

  1. Wilayah generalisasi, menjelaskan sebarapa luas hhasil penelitian dapat digeneralisasikan.
  2. Populasi dan sampel, memuat  penjelasan tentang populasi penelitian beserta teknik pengambilan sampelnya.
  3. Desain peneltian, menjelaskan secara rinci bagaimana instrument dirancang, disusun, dan diujicobakan. Juga dijelaskan validitas dan reliabilitas.
  4. Metode/teknik pengumpulan data, menjelaskan metode/teknik yang digunakan beserta alasannya.
  5. Analisis data, menjelaskan teknik analisis dan prosedur analisis yang dilakukannya.
  6. 4.    Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab hasil penelitian , berisi uraian :

  1. Deskripsi tentang lokasi penelitian dan subyek penelitian.
  2. Analisis deskriptif data penelitian yang telah dikumpulkan.
  3. Pelaksanaan pengujian hipotesis atau uraian yang merupakan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian.
  4. Interpretasi terhadap hasil penelitian.
  5. Pembahasan terhadap hasil penelitian dalam hubungannya dengan teori-teori yang ada atau hasil penelitian lain.
  6. 5.    Kesimpulan dan Saran

Bab kesimpulan dan saran berisi tentang (a) kesimpulan, (b) diskusi, (c) keterbatasan, (d) implikasi, dan (e) saran-saran.

  1. Kesimpulan menguraikan secara ringkas hasil penelitian.
  2. Diskusi berkenaan dengan hasil yang diperoleh jika hipotesis tidak terbukti atau terdapat hasil yang berbeda dengan teori-teori yang ada.
  3. Keterbatasan penelitian menjelaskan hal-hal yang harus dipertimbangkan apabila hasi, penelitian tersebut hendak digeneralisasikan dan atau diaplikasikan.
  4. Implikasi menjelaskan tindak lanjut  dari hasil penelitian, meliputi implikasi teoritis, yaitu untuk pengembangan ilmu pengetahuan, maupun implikasi praktis, yaitu sumbangan dari hasil penelitian tersebut untuk kepentingan praktis.
  5. Saran-saran, untuk penelitian lebih lanjut dan untuk lembaga/badan yang terkait.
  6. B.       Desain Eksperimen

Desain eksperimen ialah rencana menetapkan subjek yang akan diteliti pada kondisi percobaan serta menetapkan analisis statistis yang sesuai, dan meliputi: .

  • Perumusan hipotesis statistis
  • Penentuan kondisi percobaan (variable bebas) dan ukuran yang akan dikumpulkan (variable terikat), dan variable pengganggu yang akan dikendalikan.
  • Penentuan cacah subjek yang akan digunakan dan populasi yang sifatnya akan disimpulkan atau yang akan dijadikan kelompok generalisasi, dan cacah subjek atau cacah satuan percobaan yang akan digunakan.

 

  1. PERENCANAAN
    1. Hipotesis harus berterima
    2. Harus jelas mana variable bebas dan mana variable terikat
    3. Pemilihan variable bebas dan jenisnya (kualitatif atau kuantitatif) harus sesuai dengan masalah penelitian
    4. Pemilihan variable terikat perlu didukung pertimbangan praktis atau pertimbangan teoretis
    5. Variabel pengganggu harus dikendalikan

 

  1.   STRATEGI PENELITIAN (1)
  2. Eksperimen

Eksperimen (percobaan) harus memiliki ciri-ciri: (1) ada manipulasi (perbuatan) atas variabel bebas oleh peneliti, (2) ada tindakan dari peneliti untuk meminimumkan dampak dari variabel pengganggu, misalnya penunjukan secara acak subjek atau pemberian taraf perlakuan kepada subjek, (3) pengukuran harus cermat

  1. Survei
  2. Studi kasus
  3. Pengamatan naturalistic

 

  1.   STRATEGI PENELITIAN  (2)
  2. Penelitian Ex Post facto
  3. Penelitian Restrospective dan Penelitian Prospective
  4. Penelitian Longitudinal dan Penelitian Cross-Sectional
  5. Penelitian Longitudinal-Overlapping dan Penelitian Time-Lag
  6. Penelitian Runtun-Waktu dan Penelitian Subjek Tunggal

 

  1.   ANCAMAN TERHADAP VALIDITAS INFERENSI (1)

Jenis validitas: (1) validitas kesimpulan statistis, (2) validitas internal, (3) validitas konstruk dari sebab dan akibat, dan (4) validitas eksternal.

  1. Ancaman terhadap validitas kesimpulan statistis (7)
  2. Ancaman terhadap validitas internal (12)
  3. Ancaman terhadap validitas konstruk dari sebab dan akibat
  4. Ancaman terhadap validitas eksternal (6)

 

  1.   ANCAMAN TERHADAP VALIDITAS INFERENSI (2)
    1. Dampak dari harapan peneliti
    2. Karakteristik tuntutan
    3. Dampak predesposisi-subjek
    4. Dampak kooperatif-subjek
    5. Dampak pengacauan
    6. Aprehensi evaluasi
    7. Kepatuhan subjek
    8. Dampak placebo

 

  1. PENGENDALIAN VARIABEL PENGGANGGU DAN PEMINIMUMAN ANCAMAN TERHADAP VALIDITAS
  2. Pendekatan umum: 4 macam (3 macam pengendalian eksperimental dan 1 pengendalian statistis)
  3. Pengendalian khusus: prosedur buta-tunggal, prosedur but-rangkap, deception (muslihat), telnik eksperimen-terselubung, peneliti gabungan, wawancara pasca-eksperimen, teknik eksperimen takterkait, kelompok kendali-semu, prosedur yoked-control.

 

  1. PERLAKUAN ETIS TERHADAP SUBJEK
    1. Memperhatikan etika dan nilai
    2. Subjek harus diberi penjelasan tedntang konsekuensi partisipasinya dalam penelitian
    3. Melindungi subjek dari akibat yang kurang menyenangkan
    4. Menjaga hak dan minat subjek yang “lemah” atau “muda”
    5. Menghindari muslihat yang merugikan subjek.
    6. Tidak mengumpulkan informasi diri subjek, tanpa izin khusus
    7. Memberikan laporan pada subjek, setelah eksperimen selesaia
    8. Membuat laporan eksperimen secara cermat, jujur, dan tidak menghilangkan sesuatu yang dapat berpengaruh pada penafsiran.

 

  1. C.      TINJAUAN TERHADAP BEBERAPA DESAIN DASAR
    1. 1.    Desain Acak Lengkap

Contoh diagram

[Dengan perlakuan A yang terdiri atas 4 taraf, yang masing-masing dikenakan pada 2 subjek (R)]

 

Taraf Perlakuan
A1 A2 A3 A4
 

 

Subjek

R1

R2

R3

R4

R5

R6

R7

R8

R9

R10

R11

R12

R13

R14

R15

R16

R17

R18

R19

R20

         

 

Skor

 

Taraf Perlakuan
A1 A2 A3 A4
 

 

Skor

Y11

Y21

Y31

Y41

Y51

Y12

Y22

Y32

Y42

Y52

Y13

Y23

Y33

Y43

Y53

Y14

Y24

Y34

Y44

Y54

         

 

Persamaan Model

Yij = +j +i(j)

i = 1, 2, 3, 4, 5;            j = 1, 2, 3, 4.

 

  1. 2.    Desain Blok Acak

Contoh diagram

[Dengan perlakuan A yang terdiri atas 4 taraf, yang masing-masing dikenakan pada blok B1, B2, B3, B4, dan B5]

  Taraf Perlakuan
A1 A2 A3 A4
 

 

Blok

B1

B2

B3

B4

B5

B1

B2

B3

B4

B5

B1

B2

B3

B4

B5

B1

B2

B3

B4

B5

         

 

 

Dalam praktik, setiap blok itu dibagi menjadi 4 bagian, dan semua bagian dari blok yang sama dianggap memiliki kondisi yang sama.

 

Skor

Blok Taraf Perlakuan
A1 A2 A3 A4
B1

B2

B3

B4

B5

Y11

Y21

Y31

Y41

Y51

Y12

Y22

Y32

Y42

Y52

Y13

Y23

Y33

Y43

Y53

Y14

Y24

Y34

Y44

Y54

         

 

Yij = +j +i +ij

i = 1, 2, 3, 4, 5;            j = 1, 2, 3, 4.

 

  1. 3.    Desain Bujursangkar Latin (Persegi Latin)

 

Contoh diagram

[Dengan 3 macam perlakuan (A, B, C), masing-masing terdiri atas 4 taraf, dan setiap kombinasi taraf perlakuan dikenakan pada dua subjek (R)]

 

  C1 C2 C3 C4
B1 A1

R1

R2

A2

R9

R10

A3

R17

R18

A4

R25

R26

B2 A2

R3

R4

A3

R11

R12

A4

R19

R20

A1

R27

R28

B3 A3

R5

R6

A4

R13

R14

A1

R21

R22

A2

R29

R30

B4 A4

R7

R8

A1

R15

R16

A2

R23

R24

A3

R31

R32

Skor

 

  C1 C2 C3 C4
B1 A1

Y1111

Y2111

A2

Y1212

Y2212

A3

Y1313

Y2313

A4

Y1414

Y2414

B2 A2

Y1221

Y2221

A3

Y1322

Y2322

A4

Y1423

Y2423

A1

Y1124

Y2124

B3 A3

Y1331

Y2331

A4

Y1432

Y2432

A1

Y1133

Y2133

A2

Y1234

Y2234

B4 A4

Y1441

Y2441

A1

Y1142

Y2142

A2

Y1243

Y2243

A3

Y1344

Y2344

 

Persamaan Model

Yijkl = +j +k +l +gabungan

i = 1, 2;            j,k,l = 1, 2, 3, 4.

  1. 4.    Desain Faktorial Acak Lengkap

Contoh diagram

[Dengan dua faktor/perlakuan (A dan B), setiap kombinasi taraf perlakuan dikenakan pada 2 subjek (R), subjek itu berbeda satu sama lain]

 

  B1 B2 B3 B4 B5
A1 R1

R2

R9

R10

R17

R18

R25

R26

R33

R34

A2 R3

R4

R11

R12

R19

R20

R27

R28

R35

R36

A3 R5

R6

R13

R14

R21

R22

R29

R30

R37

R38

A4 R7

R8

R15

R16

R23

R24

R31

R32

R39

R40

 

Skor

  B1 B2 B3 B4 B5
A1 Y111

Y211

Y112

Y212

Y113

Y213

Y114

Y214

Y115

Y215

A2 Y121

Y221

Y122

Y222

Y123

Y223

Y124

Y224

Y125

Y225

A3 Y131

Y231

Y132

Y232

Y133

Y233

Y134

Y234

Y135

Y235

A4 Y141

Y241

Y142

Y242

Y143

Y243

Y144

Y244

Y145

Y245

 

Persamaan Model:

Yijk = +j +k + ()jk +i(jk)

i = 1, 2;            j  = 1, 2, 3, 4;               k = 1, 2, 3, 4, 5.

CASE PAPER (KASUS SISWA DILIHAT DARI PENURUNAN PRESTASI MATEMATIKA, KASUS MEMBOLOS DAN PEYELEWENGAN DANA ADMINISTRASI SEKOLAH)

CASE PAPER (KASUS SISWA DILIHAT DARI PENURUNAN PRESTASI MATEMATIKA, KASUS MEMBOLOS DAN PEYELEWENGAN DANA ADMINISTRASI SEKOLAH)

Oleh : Nuryadi, S.Pd.Si

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Sebagaimana diketahui bahwa setiap individu memiliki gaya dan cara tersendiri dalam belajar, khususnya belajar matematika. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa masing-masing individu memiliki perbedaan sesuai kapasitas yang dimiliki dan dialami oleh pribadi seseorang. Perbedaan individu seseorang dalam belajar dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu: 1) faktor perbedaan Gender ( jenis kelamin), 2) Latar belakang keluarga, 3) lingkungan, 4) Motivasi, 5) Intelegensi/kecerdasan, 6) gaya belajar.  Dari berbagai faktor itu yang menyebabkan perbedaan individu dalam belajar, menjadi sorotan penting bagi para guru khususnya sebagai pendidk, dan tentu tak kalah pentingnya bagi para orang tua yang peduli akan masa depan anak-anaknya.

Anak-anak, terkadang menjadi korban ketidakpedulian orang tua, dalam artian kurang perhatian dalam hal memahami pelajaran yang masing-masing anak memiliki  “Ala” sendiri-sendiri. Guru dan orang tua terkadang tidak mau tahu dan kurang memahami apa yang ada dalam benak pikiran siswa/ anak-anaknya. Sehingga dari situlah muncul permasalahan yang membuat seorang individu menjadi janggal dan mempunyai perilaku yang menyimpang. Dalam hal ini tidak hanya bermasalah dari segi pelajaran matematika, namun juga bermasalah dari segi sikap dan pola pikir yang tidak sesuai dengan harapan. Efek dari permasalahan yang dialami seorang individu ini adalah munculnya kasus siswa, yang berimbas pada pelajaran, guru, teman bahkan orang tuanya sendiri.

Kasus siswa juga dapat disebabkan karena adanya kesulitan siswa dalam belajar khususnya matematika. Sebagaimana diungkapkan oleh (David Mills, http://www.mathlearningdifficulties.com/) ada beberapa faktor penyebab kesulitan belajar matematika,diantaranya adalah kurangnya belajar siswa pada tahap awal yang menjadi penyebab kesulitan matematika bagi kebanyakan siswa. Lebih lanjut diungkapkan bahwa, faktor sosio-ekonomi  yang negative, dan orang tua serta guru menjadi faktor tentang kesulitan siswa dalam belajar matematika. Melihat kondisi yang dialami siswa, dimungkinkan terdapat faktor-faktor yang ikut andil dalam kasus ini. Berdasarkan informasi yang penyelidik dapatkan, bahwa siswa atas nama rahmat Budi Firhermawan ini memiliki kasus seperti yang terdapat dalam faktor-faktor diatas.

Oleh karena, penyelidik merasa perlu untuk menindaklanjuti informasi dari permasalahan atau kasus siswa tersebut. Penyelidikan kasus siswa ini merasa perlu dilakukan guna mengungkap maraknya gejala yang terjadi akhir-akhir ini khususnya dikalangan siswa dalam konteks pembelajaran matematika dan sikap siswa pada umumnya.  Dengan harapan sedikit banyak terdapat manfaat dari diketahuinya akar permasalahan yang terjadi, dapat dicarikan solusi atau jalan keluar.

 

  1. B.     Permasalahan

Dalam kasus ini, permasalahan yang akan diselidiki adalah gejala atau kejanggalan seorang siswa MAN yang mengalami penurunan prestasi belajar, secara umum dan terkhusus untuk mata pelajaran Matematika. Selanjutnya adalah adanya gejala kenakalan siswa dalam konteks sering tidak masuk sekolah serta adanya penyelewengan dana operasional pembayaran administrasi sekolah. Untuk selengkapnya permasalahan ini akan dibahas dibagian pembahasan setelah data-data serta informasi yang didapatkan dari berbagai sumber dirasa cukup.

  1. C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
    1. Tujuan

Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih dua bulan (dengan tujuan sebagai berikut :

Bulan Tujuan Penelitian Hasil Penelitian
I
  1. Mencari obyek untuk di teliti
  2. Mengidentifikasi Psikologi anak.
  3. Pemahaman peta masalah belajar anak
  4. Pemetaan masalah kesulitan belajar anak.
    1. Obyek penelitian didapat dari hasil wawancara dengan guru, dilanjutkan dengan tetangga sekitar, dan orang tua.
    2. Observasi perilaku anak di sekolah dan dirumah.
    3. Wawancara dengan obyek langsung.
II
  1. Mendiskusikan dan mengkaji permasalahan anak tersebut dalam belajar matematika.
  2. Membuat instrumen penelitian untuk pengumpulan data.
  3. Pengambilan data
    1. Mengidentifikasi masalah.
    2. Instrumen penelitian untuk mengetahui permasalahan belajar matematika dan mengatasi permasalahan tersebut.

 

  1. Manfaat.
    1. Bagi orang tua

1)        Mendekatkan pada anak dalam membantu masalah belajar

2)        Menggerakan potensi anak

3)        Meningkatkan kreativitas anak dalam belajar dalam menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan

4)        Membantu anak yang mengalami hambatan belajar

  1. Manfaat bagi anak:

1)      Meningkatkan aktivitas belajar dalam hal ini: kecakapan membaca, komputasi,  menulis, belajar, berpikir, dan kesadaran diri.

2)      Mengurangi ketegangan-ketegangan anak dalam proses belajar dengan ter-ciptanya suasana belajar yang menyenangkan.

  1. D.    Landasan Teori
    1. 1.      Belajar dan pembelajaran

Belajar adalah adalah kata yang akrab dengan semua kegiatan dilapisan masyarakat. Bagi para pelajar atau mahasiswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing lagi. Cronbach (Syaiful Bahri, 2008) berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of experience. Artinya bahwa belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Belajar pada dasarnya merupakan kebutuhan pokok bagi semua orang, baik dari lembaga formal ataupun non formal. Karena dengan belajar kita bisa mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui melalui proses tertentu. Menurut ( Amung Ma’mun dan agus Mahendro, 1998: 4) manyatakan bahwa:

Belajar adalah perubahan yang relative permanen dalam perilaku atau potensi perilaku yang merupakan hasil dari pengalaman dan tidak dicirikan oleh keadaan-keadaan diri yang sifatnya sementara. Seperti disebabkan oleh sakit, kelelahan, atau obat-obatan.

 

Menurut Muhibbin Syah, belajar merupakan tahapan perubahan tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. ( Muhibbin Syah, 1995: 9). Cobern ( 1993: 51) mengemukakan bahwa “ learning by construction thus implies a change in prior knowledge, where change can mean replacement, addition, or modification of extant knowledge” bahwa belajar dengan kontruksi mengakibatkan perubahan mendasar dari pengetahuan sebelumnya, dimana perubahan ini bisa dalam bentuk penggantian, penambahan, atau modifikasi pengetahuan terdahulu.

Peran guru dalam pembelajaran dengan teori konstruktivisme lebih sebagai fasilitator bagi siswa untuk memeperoleh pengetahuan. Sedangkan bagi siswa dituntut untuk aktif, kreatif dan kritis sehingga mampu membangun peengeteahunaya sendiri berdasarkan pengalaman yang diperolehnya selam belajar. Teori belajar kognitif telah dikembangkan dalam upaya mengembangkan kemampuan aspek rasional pada diri siswa. Arends dan Kilcher (2010: 39) mengemukakan bahwa selama beberapa decade terakhir, psikolog kognitif telah mengembangkan teori dan pengetahuan dasar yang mngesankan bahwa seorang belajar berdasakan pertumbunan dalam doamain kognitif, social, dan emosional dalam dirinya. Teori belajar ini kemudian dikenal dengan teori belajar kognitif karena mendasarkan belajar dari aspek kognitif.

Teori belajar kognitif mempunyai pengaruh besar dalam pembelajarn seperti yang diungkapkan oleh Tomei (2010:18) berikut:

Cognitive theories emerged as a new perspective employing vastly different models to explain learning. The information processing schemata ( the mind- computer analogies) replaced behavioristic assumptions that the learner is controlled by the environment and must passively adapts to the circumstances it presents.

 

Makna yang terkandung dalam kutipan di atas adalah teori kognitif muncul sebagai perspektif baru yang memahami proses dari sudut pandang yang sangat berbeda. Pengolahan informasi schemata  ( analogi pikiran-komputer) telah menggantikan asumsi behavioristik yang menganggap bahwa pembelajar dikendalikan oleh lingkungan dan pasif terhadap lingkungan sekitarnya.

Pembelajaran juga sebagai upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa . Joyce dan Weil (2004:13) mengatkaan bahwa “ in the process of learning the mind stores information, organizes it, and revises previous conception, ideas, and skill, but the new material is reconstructed by the mind.” Artinya dalam proses pembelajaran, pikiran memeberikan informasi, mengolah dan memperbaiki konsep sebelumnya. Pembelajaran tidak hanya berupa proses memberikan informasi baru, ide, dan keterampilan, tetapi dikonstruksi kembali dari materi informasi baru.

Nitko & Brookhart (2007: 18) mengemukakan “ Instruction is the process you use to provide students with the conditions that help them echieve learning target” bahwa pembelajaran adalah proses yang digunakan guru dalam mengarahkan siswa dengan kondisi tertentu yang digunakan guru untuk mengarahkan siswa dengan kondisi tertentu yang membantu mereka mencapai target belajar. Belajar dapat terjadi jika telah terlihat suatu perubahan internal dalam diri seseorang, pembentukan asosiasi baru, atau potensi untuk suatu tanggapan baru.

Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan internal di dalam diri seseorang yang membentuk asosiasi baru atau potensi untuk suatu tanggapan baru yang memerlukan keterlibatan dan kinerja peserta didik secara optimal. Sedangkan  pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan guru yang dirancang untuk menciptakan interaksi antara peserta didik dan pendidik dengan menggunakan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar untukmencapai tujuan yang diharapkan.

  1. 2.      Pembelajaran Matematika

Matematika adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang tata cara berpikir dan mengolah logika , baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Menurut Nitko (2007:18) pembelajaran merupakan proses yang dilakukan untuk menyediakan kondisi untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan belajar. Siswa sebagai peserta didik yang berada dalam suatu kelompok atau kelas yang sama. Kegiatan pembelajaran merupakan konteks interaksi yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar dalam rangka menemukan kembali kemampuanya.

Fokus dalam pembelajaran matematika adalah proses matematisasi. Menurut Suryanto (2000:111), proses matematisasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu matematisasi horizontal dan matematisasi vertical. Matematisasi horizontal adalah proses penemuan “ alat” matematis yang dapat membantu siswa dalam menyusun dan memecahkan soal yangmelekat pada situasi kehidupan nyata atau situasi dalam dunia nyata. Sedangkan matematisasi vertical adalah proses mengorganisasikan penegetahuan dalam system matematis, misalnya menemukan metode singkat untuk memecahkan soal, meneukan kaitan antar konsep-konsep matematis dan menerapkan penemuan tersebut.

Pembelajaran matematika merupakan kegiatan eksplorasi mental dalam pkikiran siswa. Proses rekonstruksi dan aplikasi konsep-konsep pengetahuan yang sebelumnya dipelajari siswa dimaksimalkna dalam upaya memperoleh konsep pengethauan baru. Seperti yang dikemukakan carpenter dan Lehrer ( Romberg, 2009: 20) bahwa:

We propose five form of mental activity from which mathematcical understanding emerges: (a) constructing relationships, (b) extending and applying mathematical knowledge, (c) reflecting about experiences, (d) articulating what one knows, and (e) making mathematical knowledge one’s own,

 

Arti yang terkandung dalam kutipan tersebut adalah ada lima bentuk kegiatan mental yang mengakibatkan munculnya pemahaman matematika, yakni: (a) membangun hubungan, (b) memperluas dan menerapkan pengetahuan matrematika, (c) mencerminkan pengalaman terdahulu, (d) mengartikulasikan apa yang telah diketahui, dan (e) mengkonstruksi sendiri penegtahuan matematikanya, dalam hal ini kegiatan mental dalam pikiran siswa merupakan proses pembentukan penegetahuan baru yng telah diketahui sebelumnya.

Pembelajaran matematika merupakan proses interaksi antar guru dan siswa maupun antara siswa dengan siswa, dimana dalam proses tersebut siswa berperan aktif menyelidiki situasi bermasalah, menentukan variabel, memutuskan cara untuk mengukur dan menghubungkan variabel-variabel tersebut, melakukan perhitungan, membuat prediksi dan memferifikasi kemanjuran dari prediksi tersebut dan pada akhirnya terbentuk konsep dan pengetahuan matematika dalam diri siswa

  1. 3.      Kesulitan dalam Belajar Matematika

Siswa yang kesulitan dalam belajar matematika bukan berarti tidak mampu belajar, tetapi mengalami kesulitan tertentu yang menjadikannya tidak siap belajar. Matematika sering menjadi pelajaran yang paling ditakuti di sekolah. Anak dengan gangguan diskalkulia disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam membaca, imajinasi, mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman, terutama dalam memahami soal-soal cerita. Anak-anak diskalkulia tidak bisa mencerna sebuah fenomena yang masih abstrak. Biasanya sesuatu yang abstrak itu harus divisualisasikan atau dibuat konkret, baru mereka bisa mencerna. selain itu anak berkesulitan belajar matematika dikarenakan pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar siswa, metode pembelajaran yang cenderung menggunakan cara konvesional, ceramah dan tugas. Guru kurang mampu memotivasi anak didiknya. Ketidaktepatan dalam memberikan pendekatan atau strategi pembelajaran.

Diskalkulia dikenal juga dengan istilah “math difficulty” karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara kuantitatif yang terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung (counting) dan mengkalkulasi (calculating). Anak yang bersangkutan akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses matematis. Hal ini biasanya ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang melibatkan angka ataupun simbol matematis.

Ciri-ciri:

  1. Tingkat perkembangan bahasa dan kemampuan lainnya normal, malah seringkali mempunyai memori visual yang baik dalam merekam kata-kata tertulis.
  2. Sulit melakukan hitungan matematis. Contoh sehari-harinya, ia sulit menghitung transaksi (belanja), termasuk menghitung kembalian uang. Seringkali anak tersebut jadi takut memegang uang, menghindari transaksi, atau apa pun kegiatan yang harus melibatkan uang.
  3. Sulit melakukan proses-proses matematis, seperti menjumlah, mengurangi, membagi, mengali, dan sulit memahami konsep hitungan angka atau urutan.
  4. Terkadang mengalami disorientasi, seperti disorientasi waktu dan arah. Si anak biasanya bingung saat ditanya jam berapa sekarang. Ia juga tidak mampu membaca dan memahami peta atau petunjuk arah.
  5. Mengalami hambatan dalam menggunakan konsep abstrak tentang waktu. Misalnya, ia bingung dalam mengurut kejadian masa lalu atau masa mendatang.
  6. Sering melakukan kesalahan ketika melakukan perhitungan angka-angka, seperti proses substitusi, mengulang terbalik, dan mengisi deret hitung serta deret ukur.
  7. Mengalami hambatan dalam mempelajari musik, terutama karena sulit memahami notasi, urutan nada, dan sebagainya.
  8. Bisa juga mengalami kesulitan dalam aktivitas olahraga karena bingung mengikuti aturan main yang berhubungan sistem skor.

Faktor-faktor Penyebab:

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi gangguan ini, di antaranya:

  1. Kelemahan pada proses penglihatan atau visual Anak yang memiliki kelemahan ini kemungkinan besar akan mengalami diskalkulia. Ia juga berpotensi mengalami gangguan dalammengeja dan menulis dengan tangan.
  2. Bermasalah dalam hal mengurut informasi

Seorang anak yang mengalami kesulitan dalam mengurutkan dan mengorganisasikan informasi secara detail, umumnya juga akan sulit mengingat sebuah fakta, konsep ataupun formula untuk menyelesaikan kalkulasi matematis. Jika problem ini yang menjadi penyebabnya, maka anak cenderung mengalami hambatan pada aspek kemampuan lainnya, seperti membaca kode-kode dan mengeja, serta apa pun yang membutuhkan kemampuan mengingat kembali hal-hal detail.

  1. Fobia matematika

Anak yang pernah mengalami trauma dengan pelajaran matematika bisa kehilangan rasa percaya dirinya. Jika hal ini tidak diatasi segera, ia akan mengalami kesulitan dengan semua hal yang mengandung unsur hitungan.

Cara Mengatasi:

Diagnosa diskalkulia harus dilakukan oleh spesialis yang berkompeten di bidangnya berdasarkan serangkaian tes dan observasi yang valid dan terpercaya. Bentuk terapi atau treatment yang akan diberikan pun harus berdasarkan evaluasi terhadap kemampuan dan tingkat hambatan anak secara detail dan menyeluruh.

Bagaimanapun, kesulitan ini besar kemungkinan terkait dengan kesulitan dalam aspek-aspek lainnya, seperti disleksia. Perbedaan derajat hambatan akan membedakan tingkat treatment dan strategi yang diterapkan. Selain penanganan yang dilakukan ahli, orang tua pun disarankan melakukan beberapa latihan yang dapat mengurangi gangguan belajar, yaitu:

  1. Memvisualisasikan konsep matematis yang sulit dimengerti, dengan menggunakan gambar ataupun cara lain untuk menjembatani langkah-langkah Atau urutan dari proses keseluruhannya.
  2. Menyuarakan konsep matematis yang sulit dimengerti dan minta si anak mendengarkan secara cermat. Biasanya anak diskalkulia tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara verbal.
  3. Tuangkan konsep matematis ataupun angka-angka secara tertulis di atas kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekadar abstrak. Atau kalau perlu, tuliskan urutan angka-angka itu untuk membantu anak memahami konsep setiap angka sesuai dengan urutannya.
  4. Tuangkan konsep-konsep matematis dalam praktek serta aktivitas sederhana sehari-hari. Misalnya, berapa sepatu yang harus dipakainya jika bepergian, berapa potong pakaian seragam sekolahnya dalam seminggu, berapa jumlah kursi makan yang diperlukan jika disesuaikan dengan anggota keluarga yang ada, dan sebagainya.
  5. Sering-seringlah mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, entah dengan cara menyanyikan angka-angka, atau cara lain yang mempermudah menampilkan ingatannya tentang angka.
  6. Pujilah setiap keberhasilan, kemajuan atau bahkan usaha yang dilakukan oleh anak.
  7. Lakukan proses asosiasi antara konsep yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata sehari-   hari, sehingga anak mudah memahaminya.
  8. Harus ada kerja sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan strategi belajar di kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misalnya, guru memberi saran tertentu pada orang tua dalam menentukan tugas di rumah, buku-buku bacaan, serta latihan yang disarankan. (http://www.ehow.com/how_7866259_teach-math-kids-learning-disabilities.html)

Mengalami kesulitan dengan fakta-fakta dasar.

  1. Kelemahan Komputasi

Banyak siswa, meskipun pemahaman yang baik tentang konsep-konsep matematika, tidak konsisten pada komputasi. Mereka membuat kesalahan karena mereka salah membaca tanda-tanda atau membawa nomor salah, atau tidak dapat menulis angka cukup jelas atau di kolom yang benar. Siswa-siswa ini sering perjuangan, khususnya di sekolah dasar, di mana perhitungan dasar dan “jawaban yang benar” ditekankan. Seringkali mereka akhirnya di kelas remedial, meskipun mereka mungkin memiliki potensi tinggi untuk berpikir matematika tingkat yang lebih tinggi.

  1. Kesulitan Mentransfer Pengetahuan

Salah satu kesulitan yang cukup umum dialami oleh orang-orang dengan masalah matematika adalah ketidakmampuan untuk dengan mudah menghubungkan aspek-aspek abstrak atau konseptual matematika dengan realitas. Memahami simbol apa yang mewakili dalam dunia fisik adalah penting untuk seberapa baik dan seberapa mudah seorang anak akan ingat konsep. Holding dan memeriksa sebuah segitiga sama sisi, misalnya, akan jauh lebih bermakna bagi anak dari sekedar diberitahu bahwa segitiga adalah sama sisi karena memiliki tiga sisi yang sama. Namun anak-anak dengan masalah ini menemukan koneksi seperti ini sungguh-sungguh yang terbaik.

3. Membuat Koneksi

Beberapa siswa mengalami kesulitan membuat koneksi bermakna dalam dan seluruh pengalaman matematika. Misalnya, siswa mungkin tidak mudah memahami hubungan antara angka dan jumlah mereka wakili. Jika semacam ini koneksi tidak dibuat, keterampilan matematika mungkin tidak berlabuh dengan cara apapun berarti atau relevan. Hal ini membuat mereka sulit untuk mengingat dan diterapkan dalam situasi baru.

  1. Lengkap Pemahaman tentang Bahasa Math

Bagi sebagian siswa, matematika cacat didorong oleh masalah dengan bahasa. Anak-anak juga dapat mengalami kesulitan dengan membaca, menulis, dan berbicara. Dalam matematika, bagaimanapun, masalah bahasa mereka bingung dengan terminologi inheren sulit, beberapa di antaranya mereka mendengar mana-mana di luar kelas matematika. Siswa ini mengalami kesulitan memahami arah tertulis maupun lisan atau penjelasan, dan menemukan masalah kata sangat sulit untuk diterjemahkan.

  1. Kesulitan Memahami Visual dan Tata Ruang Aspek dan perseptual.

Masalah yang umum jauh lebih kecil – dan mungkin yang paling parah – adalah ketidakmampuan untuk secara efektif memvisualisasikan konsep-konsep matematika. Siswa yang punya masalah ini mungkin tidak dapat menilai ukuran relatif antara tiga objek yang berbeda. Gangguan ini memiliki kelemahan jelas, karena membutuhkan bahwa seorang siswa bergantung hampir sepenuhnya pada menghafal hafalan dari deskripsi verbal atau tertulis dari konsep-konsep matematika yang kebanyakan orang mengambil untuk diberikan. (http://www.pbs.org/wgbh/misunderstoodminds/mathdiffs.htmlDifficulties withMathematics

  1. 4.      Permasalahan (kasus siswa)

Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah, dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah, khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling.

Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah, aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Kendati demikian, harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Sebagai lembaga pendidikan, justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya.

Oleh karena itu, disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera, penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun, tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah, sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.

Secara visual, kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini:

 

Dengan melihat gambar di atas, kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut, meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Oleh karena itu, kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi.

Sebagai ilustrasi, misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas, sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian, siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin, mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling, maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya, diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya, misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi, keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya, keinginan untuk melanjutkan sekolah, serta hal-hal positif lainnya, meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah.

Perlu digarisbawahi, dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah, dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.

Lebih jauh, meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan, pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. Dalam hal ini, perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). Dalam hal ini, Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya, sebagaimana dalam bagan berikut :

  1. Masalah (kasus) ringan, seperti: membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas ringan. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah.
  2. Masalah (kasus) sedang, seperti: gangguan emosional, berpacaran, dengan perbuatan menyimpang, berkelahi antar sekolah, kesulitan belajar, karena gangguan di keluarga, minum minuman keras tahap pertengahan, mencuri kelas sedang, melakukan gangguan sosial dan asusila. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor), dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah, ahli/profesional, polisi, guru dan sebagainya. Dapat pula mengadakan konferensi kasus.
  3. Masalah (kasus) berat, seperti: gangguan emosional berat, kecanduan alkohol dan narkotika, pelaku kriminalitas, siswa hamil, percobaan bunuh diri, perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater, dokter, polisi, ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus.

Secara visual, penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini:

 

Dengan melihat penjelasan di atas, tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal.

(http://smkn5solo.net/new/penanganan-siswa-bermasalah.html)

 

  1. E.     METOLOGI PENELITIAN
  2. 1.      Obyek Penyelidikan

Nama Siswa     : Rahmat Budi Firhermawan

Sekolah             : MAN Gombong

Alamat Sekolah           :  Jl. Karangbolong KM 01 PO BOX 135, Gombong Kebumen  Jawa Tengah

Kelas/Semester : X/ II

Asal siswa       : Desa Banjararjo, Rt 03 RW III, kecamatan Ayah Kanupaten Kebumen Jawa Tengah.

  1. 2.      Sumber Informasi

Sumber informasi dalam kasus ini, ada beberapa sumber yang dapat diperoleh yaitu:

  1. Siswa itu sendiri

Siswa adalah informan utama yang dijadikan sumber data dan informasi guna kelancaran penyelidikan. Dari pribadi itulah penyelidik mengetahui secara langsung kejadian yang sesungguhnya, baik secara fisik ataupun bukti secara lisan dan tertulis. Kendatipun demikian tidak jarang pribadi memberikan informasi yang tidak valid. Terkadang apa yang disampaikan memutarbalikan vakta yang sesungguhnya, maka dari itu informasi dari sumber lain sangat dibutuhkan.

  1. Guru wali kelas

Wali kelas atau guru merupakan media sumber informasi yang penyelidik rasa berperan andil dalam kegiatan pembelajaran dan lingkungan sekolah. Karena keberadaan siswa tentunya disekolah berada pada tanggungjawab guru dan komponennya. Gurulah yang tahu kondisi yang sebenarnya ketika siswa berada dilingkungan sekolah.

  1. Teman sekelas dan teman dekat

Teman dekat adalah salah satu sumber informasi yang cukup penting, karena dari teman dekatlah informasi dapat diperoleh, sebelum guru dan orang tua mengetahui adanya informasi yang tidak langsung dapat dilihat. Melainkan membutuhkan mediasi dalam proses mengetahui gejala permasalahan yang terjadi. Kondisi anak ketika diluar terlepas dari pantauan guru dan orangtua, maka dari itu teman menjadi salah satu alternatif jalan untuk mendapatkan informasi atau data yang dibutuhkan dalam kasus ini.

  1. Orang tua Siswa

Data atau informasi yang diperoleh dari orang tua sebagai penguat dan sinkronisasi antara informasi yang diperoleh dari guru, teman dan anak itu sendiri. Dengan harapan semua informasi yang diperoleh tadi tidak ada sesuatu yang belum jelas, sehingga akan berpengaruh pada proses pencarian solusi atau jalan keluar.  Keberadaan anak ketika ada dalam lingkungan keluarga atau rumah, orangtualah yang mengetahui secara pastinya.

  1. 3.      Teknik Pengumpulan Informasi

Guna memperoleh informasi yang cukup penyelidik menggunakan beberapa cara dalam pengumpulkan informasi tentang kasus ini. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan informasi ini yaitu:

  1. Observasi

Observasi dilakukan melalui tiga tahap yaitu:

1)      Observasi Lingkungan tempat tinggal.

Observasi Lingkungan tempat tinggal dilakukan guna mengetahui kondisi belajar masyarakat, sosial, ekonomi, moral, dan etika.

2)      Observasi sekolah

Observasi dilakukan guna menunjang informasi yang diperoleh, dan guna memperoleh gambaran kondisi yang sesungguhnya mengenai kondisi lingkungan tempat tinggal, kondisi keluarga termasuk lingkungan rumah dan teman dekat, serta sarana dan prasarana yang menunjang siswa. Dalam hal ini termasuk sarana transportasi dari tempat tinggal menuju sekolah.

Observasi ke sekolah dilakukan guna memperoleh gambaran serta kondisi lingkungan tempat belajar, termasuk saranadan prasarana sekolah, guru, serta hubungan siswa tersebut dengan teman-teman disekolah. Penyelidik mencoba mengamati sesuatu yang memungkinkan menjadi salah satu penyebab dari kasus yang dialami siswa melalui lingkungan sekolah dan sekitarnya.

  1. Wawancara

Wawancara dilakukan kepada:

1)      Siswa yang bersangkutan

2)      Guru wali kelas

3)      Orang tua siswa

4)      Teman sekelas/teman dekat

Wawancara digunakan sebagai instrumen pendukung bagi penyelidik agar dapat lebih memahami proses pemecahan masalah siswa yang berkaitan dengan kasus yang dialami siswa. Instrumen ini berguna sebagai pelengkap informasi yang belum terungkap melalui pengamatan dan informasi yang didapatkan secara tidak langsung. Pada prinsipnya wawancara dilakukan secara bebas terpimpin dimana peneylidik menyiapkan panduan dalam wawancara, namun dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi masing-masing siswa yang diwawancarai. Dengan demikian, wawancara diharapkan dapat memperoleh data yang khusus dan mendalam, namun tetap ada keseragaman pada pokok-pokok permasalahan yang ingin digali dari siswa. Kegiatan wawancara dicatat dalam lembar kertas yang telah disiapkan, namun wawancara ini dilakukan secara tidak terlalu formal. Denagan harapan siswa juga tidak terlalu kaku dan mau menyampaiakn apa yang menjadi keluhan dan permasalahan yang sedang dihadapi secara santai.

 

  1. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan untuk mengetahui prestasi belajar khususnya mata pelajaran matematika diambil dari nilai rapport semester I Tahun 2010/2011 bidang matematika dan nilai ulangan harian diambil dari instrumen assessment informal dalam bentuk inventory yang dibuat oleh guru. Inventory yang dimaksud adalah hasil evaluasi belajar anak bulan november 2010.

 

  1. 5.      Teknik Analisis Data

Analisis data untuk mengetahui pengaruh psikologi anak terhadap prestasi belajar khususnya matematika dengan beberapa faktor terutama : lingkungan, peran orang tua, lokasi tempat tinggal kesekolah, perkembangan kognitif, peran guru dan sekolah dalam mengatasi kesulitan belajar matematika anak. Data-data hasil penelitian tersebut hanya digunakan sebagai pendukung informasi terhadap obyek,  mengidentifikasi permasalahan, menganalisis permasalahan, dan sebagai pertimbangan memberikan solusi.

  1. F.     Pembahasan Hasil Informasi
    1. Hasil Observasi

Setelah penyelidik mengadakan observasi,dapat dilihat pada lampiran 1, diperoleh hasil bahwa siswa tersebut dalam kasus ini atas nama Rahmat Budi Firhermawan, asal  sekolah MAN Gombong Kebumen jawa Tengah, dengan alamat Jalan Karangbolong KM 01 PO BOX 135. Alamat asal: Desa Banjararjo, Rt 03 RW III Ayah Kebumen Jawa Tengah. Penyelidik mengamati daerahnya cukup jauh dari wilayah kota, dengan kata lain jauh dipegunungan dan akses jalan menuju angkutan umum cukup jauh, dengan menempuh perjalanan kaki sekitar ½ jam-an. Akses  jalan cukup rumit, karena kondisi jalan belum aspal dan tidak rata. Kondisi rumah masih cukup memprihatinkan, hanya terbuat dari kayu dan bamboo, sedangkan kondisi ekonomi hanya cukup pas-pasan, dan siswa tersebut tinggal dengan kakek dan neneknya serta kakaknya, Ayahnya sudah tiada sedangkan ibunya menikah lagi dan tidak tinggal bersama siswa tersebut. Pekerjaan orang tuanya adalah tani dan pekerja bangunan. Pada awalnya kondisi pendidikan Rahmat cukup berprestasi, disekolah Dasar dia juga menduduki peringkat tiga besar, kemudian ketika di SMP juga masih berada pada 10 besar, anaknya terkenal baik dan tidak ada tampak sikap yang nakal.

  1. Hasil Wawancara

Setelah dilakukan wawancara  dengan berbagai pihak yang terkait, dapat dilihat pada lampiran 2, diperoleh data bahwa informasi kejanggalan atau terungkapnya kasus ini berawal dari pihak sekolah tepatnya guru wali kelas siswa, yang menelpon keluarga. Informasi tersebut memberikan kabar bahwa ananda Rahmat, (panggilan disekolah) selama semester Satu sudah alpa atau tidak masuk sekolah tanpa keterangan sebanyak 8 kali. Dari kabar tersebut tentu orang tua merasa kaget, karena selama ini anandanya selalu pamit berangkat dari rumah untuk sekolah, kecuali memang pernah tidak masuk karena sakit. Akhirnya pihak orang tua menanyakan hal kabar tersebut kepada anandanya setelah pulang sekolah. Ketika ditanya oleh orang tuanya dia belum berterus terang dan bilang tetap masuk sekolah, dengan kata lain menyalahkan kabar dari gurunya. Sebagai orang tua, mereka tidak ingin bersikap main hakim sendiri. Maka dari itulah orangtua Rahmat berusaha mencari tahu baik dari pihak sekolah ataupun teman yang biasa bersama anandanya.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup, akhirnya orang tua siswa membicarakan baik-baik permasalahn anandanya dengan konsekuensi ada perbaikan dari anaknya. Ternyata setelah sekitar satu bulan berjalan, dan banyak waktu agak luang karena sekolah tinggal menunggu pangambilan raport semester satu, orang tua tidak terlalu perhatian dengan kondisi anandanya. Rahmat sering pulang sekolah hampir menjelang magrib, dan gejala itu terbukti ketika pengambilan raport ternyata nilai semester satu mengalami penurunan drastis jauh dari harapan orangtuanya. Yang lebih memprihatinkan adalah tingginya alpa mencapai 12x dan terdapat 4 mata pelajaran yang nilainya kurang dari KKM, termasuk salah satunya adalah matematika.

Dari awal itulah kemudian kasus ini sedikit-demi sedikit terungkap, ketika orang tuanya di panggil oleh bagian administrasi ternyata ada kekurangan SPP dan SOP yang belum dibayarkan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak walikelas dan siswa itu sendiri, penyelidik mendapatkan informasi bahwa selama ini Rahmat tidak masuk sekolah iu karena main Playstation di “GARUDA” dekat sekolah tepatnya diwilayah gombong kota dan sering “nongkrong” bersama teman luar sekolah. Untuk selanjutnya adalah masalah administrasi sekolah yang tidak dibayarkan, ternyata uang yang diberikan oleh orang tuanya dipakai untuk main PS dan Nongkrong bersama temanya. Setelah dikonvermasi lebih jauh sebab lain yang mebuat Rahmat menjadi seperti sekarang ini adalah, sebenarnya dari awal Rahmat merasa terpaksa sekolah di MAN, karena keinginanya adalah sekolah di SMK, karena masalah biaya akhirnya Rahmat dimasukan di MAN. Berlanjut dari rasa ketidaksenangan tersebut Rahmat menjadi malas masuk sekolah, sehingga berangkatnya sering terlambat dan karena merasa malu tidak masuk kelas.Selanjutnya kondisi fisik Rahmat yang lain dari temanya, ternyata menjadi salah satu faktor penyebab kasus ini. Umur Rahmat seumuran sama dengan teman kebanyakan, namun fisiknya layaknya anak usia SD, Berat badanya sekarang baru mencapai 28 s.d 30 Kg, dan tinggi badanya baru mencapai kurang lebih 140 cm. Gambar dapat dilihat pada lampiran 3.

Alasan lain yang menambah permasalahan adalah kondisi rumah yang jaraknya cukup jauh dari sekolah dan harus menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, sehingga kondisi fisik sudah capek dan tidak dapat konsentrasi lagi dalam belajar.  Perjalanan dari rumah menuju angkutan memakan waktu 1/2 jaman dengan jalan kaki, terkadang dia ikut motor bersama anak sedesa yang sekolah di wilayah Gombong. Ditambah lagi kondisi keluarga, khususnya tempat tinggal yang kurang mendukung suasana belajar, karena dia hanya tinggal dengan kakek dan neneknya yang kurang berpendididkan, kondisi ekonomi yang hanya pas-pasan. Ketika ditanya mengapa tidak kos saja, ternyata dulu orang tuanya pernah mencarikan kos, dan berjalan sekitar 3 bulanan, kemudian mita pulang pergi saja karena tidak betah tinggal dikos.

Terkait masalah dalam matematika, yang menjadi kendala kesulitan belajar matematika bagi Rahmat adalah masalah-masalah dasar yang berhubungan dengan faktor-faktor: 1) kelemahan komputasi, 2) Kesulitan Mentransfer Pengetahuan, 3) Membuat Koneksi, 4) Pemahaman tentang Bahasa Math, 5) Kesulitan Memahami Visual dan Tata Ruang Aspek dan perseptual. Faktor lain adalah pembelajaran yang membosankan dengan metode yang kurang melibatkan siswa secara aktif dalam mengeksplor ide dan kreatifitas diri. Disamping itu anada Rahmat ini memang anaknya tergolong pendiam dan terbuka baik dengan guru ataupun dengan teman-temanya.

Dari hasil wawancara tersebut penyelidik mendapakan  sedikit gambaran tentang apa yang sebenarnya menjadi permasalahan dan bagaimana langkah yang bisa disarankan untuk dijadikan solusi kepada Rahmat dan keluarganya. Ketika ditanya sebenarnya kendala yang dihadapai selain matematika adalah pelajaran Bahasa arab dan Qur’an Hadits yang dirasa sulit, karena Rahmat tidak mempunya basic dari SMP-nya. Bahkan ada guru yang pernah menyobek saku bajunya dengan kasar, karena masih dipasang BAT “OSIS”, yang seharusnya dipasang BAT “MAN”dia merasa guru itu tidak dapat memberikan tauladan yang baik karena menyobeknya dihadapan teman-temanya,sehingga dia merasa malu.

  1. G.    Kesimpulan

Dari pembahasan hasil informasi yang didapatkan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, setiap permasalahan pasti ada sebab dan akibatnya. Sebab itulah yang mengakibatkan seseorang individu dalam hal ini adalah siswa  mengalami sebuah permasalahan sebagai akibat dari sesuatu yang diinginkanya, namun terjadi kesenjangan antara harapan dengan kenyataan yang didapatkanya. Permasalahan dapat disebabkan dari berbagai pihak, diantaranya:

  1.  Latar belakang keluarga yang kurang mendukung sarana dan prasarana pendidikan, kurangnya tingkat pengetahuan serta pendidikan orang tua
  2.  Lingkungan pergaulan yang kurang terpantau oleh orang tua
  3.   Ekonomi keluarga yang hanya pas-pasan, sehingga kurang terpenuhi kebutuhan dengan layak
  4. Sekolah yang tidak menjadikan siswa nyaman dan merasa penting
  5.   Metode pengajaran yang diberikan oleh guru, belum memadukan keterlibata siswa secara aktif serta kurangnya respon guru dalam memahami perbedaan individu masing-masing siswa.
  6. Adanya beban mental dan fisik dari siswa yang merasa minder dengan perbedaan yang dimilikinya.
  7. Topografi lingkungan tempat tinggal serta akses transportasi menuju sekolah membutuhkan waktu yang cukup melelahkan.
  8. H.    Saran
    1. Bagi Orang Tua
      1. Agar orang tua lebih bisa memahami apa yang diinginkan anandanya, dengan banyak memberikan pengertian tentang kondisi keluarga, ekonomi
      2. Memperhatikan/ memantau pergaulanya baik bersama teman sekolah ataupun teman diluar sekolah.
      3. Menjelaskan dan memberikan pengertian pentingnya bersyukur atas nikmat dan karunia yang diberikan Alloh SWT kepada kita.
      4. Memberikan dan mengajari rasa tanggungjawab sebagai siswa dan sebagai anak
      5. Jangan terlalu mempercayakan hal-hal yang bersifat urgen dalam hal ini adalah keuangan sekolah
      6. Menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan pihak sekolah dan guru
      7. Mencoba kembali menyarankan ananda untuk kos, agar fisik tidak terlalu capek sehingga dapat konsentrasi dalam belajar.
      8. Bagi sekolah
        1. Agar menjalin hubungan yang baik dengan siswa dan orang tuanya
        2. Berusaha memahami kondisi siswa termasuk latar belakang keluarga kondisi sosio-ekonomi
        3. Agar diterapkan system disiplin sekolah yang dapat membuat efek jera kepada siswa
        4. Memperbaiki sikap dan perhatian guru kepada siswanya
        5. Menanamkan /memberikan metode pembelajaran yang tidak membosankan bagi siswa.
        6. Mengadakan pertemuan rutin antara orang tua dan sekolah paling tidak dalam satu semester, sehingga perkembangan informasi anak dapat terpantau baik oleh pihak sekolah ataupun orang tua.

DAFTAR PUSTAKA

 

Agus Mahendro dan among Ma’mun (1998) Teori belajar dan Pembelajaran Motorik, Bandung: Andira

 

Arends, R.I., & Kilcher, A. (2010) Teaching for Student learning: becoming an accomplished teacher. New York : Routledge

 

Cobern,W.W. ( 1993). Contextual constructivism: The impact of culture on the learning and teaching of science. Dalam K.G Tobin (Ed.), The practice of constructivism in science education (pp.51-69). Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates

 

How to Teach Math to Kids With Learning Disabilities

http://www.ehow.com/how_7866259_teach-math-kids-learning-disabilities.html

 

Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E  (2004). Models of teaching (7thed). Boston, MA: Pearson Education.

 

Muhibbin Syah,(1995) Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Twrbaru, Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Math learning difficulties and disabilities.

http://www.mathlearningdifficulties.com/DavidMills,Ph.D.,M.A.(physics, psychology)   [diakses tanggal 22 Mei 2011]

 

Nitko, A. J & Brookhart, S.M. (2007) Educational assessment of student. New Jersey: Pearson Education

  PenanganansiswaBermasalah

http://smkn5solo.net/new/penanganan-siswa-bermasalah.html [diakses 23 mei 2011]

 

 

Romberg, T.A., & Kaput, J.J ( 2009). Mathematics worth teaching, mathematics worth understanding. Dalam E. Fennema & T.A. Romberg (Eds.), Mathematics classrooms that promote understanding (pp.3-18) Mahwah, NJ: taylor & Francis e-library.

 

Suryanto (2000), Pendidikan matematika realistic : suatu inovasi pembelajaran matematika, Cakrawala Pendidikan, XIX 3, 109-116.

 

Syaefudin suhadi. (2009). Perbandingan keefektifan pembelajaran matematika dengan pendekatan realistic dan model belajar kooperatif learning tipe STAD pada Siswa MTS. Tesis Magister, tidak diterbitkan, UNY, Yogyakarta.

 

Tomei (2010). Designing instruction for the traditional, adult, and distance learner : a new engine for technology-based teaching.  USA: Information science Reference.

 

What Can Stand in the Way of a Student’s Mathematical Development?

http://www.pbs.org/wgbh/misunderstoodminds/mathdiffs.htmlDifficulties withMathematics [diakses tanggal 23 Mei 2011]

 

 

 

 

 

 

Lampiran: 1

  1. Lembar Observasi Lingkungan sekitar termasuk kondisi  orang tua tempat tinggal

Nama siswa     : Rahmat Budi Firhermawan

Sekolah           : MAN Gombong/ II

Alamat Sekolah           : Jl. Karangbolong KM 01 PO BOX 135, Gombong Kebumen  Jawa Tengah

Kelas/Semester  : X/ II

Asal siswa            : Desa Banjararjo, Rt 03 RW III, kecamatan Ayah Kanupaten Kebumen Jawa Tengah.

Nama Ayah         : Nurrohman (Alm)

Nama Ibu             : Samiyah

Jumlah Saudara   : 1

Anak ke               : 2

Teman dekat        : Faisal dan Susi

Tinggal Dengan   : Kakek dan nenek

Kondisi keluarga : Ekonomi pas-pasan

Rumah                 : masih terbuat dari kayu

Pekerjaan Ortu     : Tani dan pekerja bangunan

Transportasi         : tidak lancar (angkutan)

Kondisi wilayah  : desa, jauh dari wilayah kota

Kondisi jalan       : belum aspal

Akses menuju sekolah: jalan kaki sampai tempat angkut sekitar ½ jam