CASE PAPER (KASUS SISWA DILIHAT DARI PENURUNAN PRESTASI MATEMATIKA, KASUS MEMBOLOS DAN PEYELEWENGAN DANA ADMINISTRASI SEKOLAH)

CASE PAPER (KASUS SISWA DILIHAT DARI PENURUNAN PRESTASI MATEMATIKA, KASUS MEMBOLOS DAN PEYELEWENGAN DANA ADMINISTRASI SEKOLAH)

Oleh : Nuryadi, S.Pd.Si

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Sebagaimana diketahui bahwa setiap individu memiliki gaya dan cara tersendiri dalam belajar, khususnya belajar matematika. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa masing-masing individu memiliki perbedaan sesuai kapasitas yang dimiliki dan dialami oleh pribadi seseorang. Perbedaan individu seseorang dalam belajar dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu: 1) faktor perbedaan Gender ( jenis kelamin), 2) Latar belakang keluarga, 3) lingkungan, 4) Motivasi, 5) Intelegensi/kecerdasan, 6) gaya belajar.  Dari berbagai faktor itu yang menyebabkan perbedaan individu dalam belajar, menjadi sorotan penting bagi para guru khususnya sebagai pendidk, dan tentu tak kalah pentingnya bagi para orang tua yang peduli akan masa depan anak-anaknya.

Anak-anak, terkadang menjadi korban ketidakpedulian orang tua, dalam artian kurang perhatian dalam hal memahami pelajaran yang masing-masing anak memiliki  “Ala” sendiri-sendiri. Guru dan orang tua terkadang tidak mau tahu dan kurang memahami apa yang ada dalam benak pikiran siswa/ anak-anaknya. Sehingga dari situlah muncul permasalahan yang membuat seorang individu menjadi janggal dan mempunyai perilaku yang menyimpang. Dalam hal ini tidak hanya bermasalah dari segi pelajaran matematika, namun juga bermasalah dari segi sikap dan pola pikir yang tidak sesuai dengan harapan. Efek dari permasalahan yang dialami seorang individu ini adalah munculnya kasus siswa, yang berimbas pada pelajaran, guru, teman bahkan orang tuanya sendiri.

Kasus siswa juga dapat disebabkan karena adanya kesulitan siswa dalam belajar khususnya matematika. Sebagaimana diungkapkan oleh (David Mills, http://www.mathlearningdifficulties.com/) ada beberapa faktor penyebab kesulitan belajar matematika,diantaranya adalah kurangnya belajar siswa pada tahap awal yang menjadi penyebab kesulitan matematika bagi kebanyakan siswa. Lebih lanjut diungkapkan bahwa, faktor sosio-ekonomi  yang negative, dan orang tua serta guru menjadi faktor tentang kesulitan siswa dalam belajar matematika. Melihat kondisi yang dialami siswa, dimungkinkan terdapat faktor-faktor yang ikut andil dalam kasus ini. Berdasarkan informasi yang penyelidik dapatkan, bahwa siswa atas nama rahmat Budi Firhermawan ini memiliki kasus seperti yang terdapat dalam faktor-faktor diatas.

Oleh karena, penyelidik merasa perlu untuk menindaklanjuti informasi dari permasalahan atau kasus siswa tersebut. Penyelidikan kasus siswa ini merasa perlu dilakukan guna mengungkap maraknya gejala yang terjadi akhir-akhir ini khususnya dikalangan siswa dalam konteks pembelajaran matematika dan sikap siswa pada umumnya.  Dengan harapan sedikit banyak terdapat manfaat dari diketahuinya akar permasalahan yang terjadi, dapat dicarikan solusi atau jalan keluar.

 

  1. B.     Permasalahan

Dalam kasus ini, permasalahan yang akan diselidiki adalah gejala atau kejanggalan seorang siswa MAN yang mengalami penurunan prestasi belajar, secara umum dan terkhusus untuk mata pelajaran Matematika. Selanjutnya adalah adanya gejala kenakalan siswa dalam konteks sering tidak masuk sekolah serta adanya penyelewengan dana operasional pembayaran administrasi sekolah. Untuk selengkapnya permasalahan ini akan dibahas dibagian pembahasan setelah data-data serta informasi yang didapatkan dari berbagai sumber dirasa cukup.

  1. C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
    1. Tujuan

Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih dua bulan (dengan tujuan sebagai berikut :

Bulan Tujuan Penelitian Hasil Penelitian
I
  1. Mencari obyek untuk di teliti
  2. Mengidentifikasi Psikologi anak.
  3. Pemahaman peta masalah belajar anak
  4. Pemetaan masalah kesulitan belajar anak.
    1. Obyek penelitian didapat dari hasil wawancara dengan guru, dilanjutkan dengan tetangga sekitar, dan orang tua.
    2. Observasi perilaku anak di sekolah dan dirumah.
    3. Wawancara dengan obyek langsung.
II
  1. Mendiskusikan dan mengkaji permasalahan anak tersebut dalam belajar matematika.
  2. Membuat instrumen penelitian untuk pengumpulan data.
  3. Pengambilan data
    1. Mengidentifikasi masalah.
    2. Instrumen penelitian untuk mengetahui permasalahan belajar matematika dan mengatasi permasalahan tersebut.

 

  1. Manfaat.
    1. Bagi orang tua

1)        Mendekatkan pada anak dalam membantu masalah belajar

2)        Menggerakan potensi anak

3)        Meningkatkan kreativitas anak dalam belajar dalam menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan

4)        Membantu anak yang mengalami hambatan belajar

  1. Manfaat bagi anak:

1)      Meningkatkan aktivitas belajar dalam hal ini: kecakapan membaca, komputasi,  menulis, belajar, berpikir, dan kesadaran diri.

2)      Mengurangi ketegangan-ketegangan anak dalam proses belajar dengan ter-ciptanya suasana belajar yang menyenangkan.

  1. D.    Landasan Teori
    1. 1.      Belajar dan pembelajaran

Belajar adalah adalah kata yang akrab dengan semua kegiatan dilapisan masyarakat. Bagi para pelajar atau mahasiswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing lagi. Cronbach (Syaiful Bahri, 2008) berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of experience. Artinya bahwa belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Belajar pada dasarnya merupakan kebutuhan pokok bagi semua orang, baik dari lembaga formal ataupun non formal. Karena dengan belajar kita bisa mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui melalui proses tertentu. Menurut ( Amung Ma’mun dan agus Mahendro, 1998: 4) manyatakan bahwa:

Belajar adalah perubahan yang relative permanen dalam perilaku atau potensi perilaku yang merupakan hasil dari pengalaman dan tidak dicirikan oleh keadaan-keadaan diri yang sifatnya sementara. Seperti disebabkan oleh sakit, kelelahan, atau obat-obatan.

 

Menurut Muhibbin Syah, belajar merupakan tahapan perubahan tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. ( Muhibbin Syah, 1995: 9). Cobern ( 1993: 51) mengemukakan bahwa “ learning by construction thus implies a change in prior knowledge, where change can mean replacement, addition, or modification of extant knowledge” bahwa belajar dengan kontruksi mengakibatkan perubahan mendasar dari pengetahuan sebelumnya, dimana perubahan ini bisa dalam bentuk penggantian, penambahan, atau modifikasi pengetahuan terdahulu.

Peran guru dalam pembelajaran dengan teori konstruktivisme lebih sebagai fasilitator bagi siswa untuk memeperoleh pengetahuan. Sedangkan bagi siswa dituntut untuk aktif, kreatif dan kritis sehingga mampu membangun peengeteahunaya sendiri berdasarkan pengalaman yang diperolehnya selam belajar. Teori belajar kognitif telah dikembangkan dalam upaya mengembangkan kemampuan aspek rasional pada diri siswa. Arends dan Kilcher (2010: 39) mengemukakan bahwa selama beberapa decade terakhir, psikolog kognitif telah mengembangkan teori dan pengetahuan dasar yang mngesankan bahwa seorang belajar berdasakan pertumbunan dalam doamain kognitif, social, dan emosional dalam dirinya. Teori belajar ini kemudian dikenal dengan teori belajar kognitif karena mendasarkan belajar dari aspek kognitif.

Teori belajar kognitif mempunyai pengaruh besar dalam pembelajarn seperti yang diungkapkan oleh Tomei (2010:18) berikut:

Cognitive theories emerged as a new perspective employing vastly different models to explain learning. The information processing schemata ( the mind- computer analogies) replaced behavioristic assumptions that the learner is controlled by the environment and must passively adapts to the circumstances it presents.

 

Makna yang terkandung dalam kutipan di atas adalah teori kognitif muncul sebagai perspektif baru yang memahami proses dari sudut pandang yang sangat berbeda. Pengolahan informasi schemata  ( analogi pikiran-komputer) telah menggantikan asumsi behavioristik yang menganggap bahwa pembelajar dikendalikan oleh lingkungan dan pasif terhadap lingkungan sekitarnya.

Pembelajaran juga sebagai upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa . Joyce dan Weil (2004:13) mengatkaan bahwa “ in the process of learning the mind stores information, organizes it, and revises previous conception, ideas, and skill, but the new material is reconstructed by the mind.” Artinya dalam proses pembelajaran, pikiran memeberikan informasi, mengolah dan memperbaiki konsep sebelumnya. Pembelajaran tidak hanya berupa proses memberikan informasi baru, ide, dan keterampilan, tetapi dikonstruksi kembali dari materi informasi baru.

Nitko & Brookhart (2007: 18) mengemukakan “ Instruction is the process you use to provide students with the conditions that help them echieve learning target” bahwa pembelajaran adalah proses yang digunakan guru dalam mengarahkan siswa dengan kondisi tertentu yang digunakan guru untuk mengarahkan siswa dengan kondisi tertentu yang membantu mereka mencapai target belajar. Belajar dapat terjadi jika telah terlihat suatu perubahan internal dalam diri seseorang, pembentukan asosiasi baru, atau potensi untuk suatu tanggapan baru.

Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan internal di dalam diri seseorang yang membentuk asosiasi baru atau potensi untuk suatu tanggapan baru yang memerlukan keterlibatan dan kinerja peserta didik secara optimal. Sedangkan  pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan guru yang dirancang untuk menciptakan interaksi antara peserta didik dan pendidik dengan menggunakan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar untukmencapai tujuan yang diharapkan.

  1. 2.      Pembelajaran Matematika

Matematika adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang tata cara berpikir dan mengolah logika , baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Menurut Nitko (2007:18) pembelajaran merupakan proses yang dilakukan untuk menyediakan kondisi untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan belajar. Siswa sebagai peserta didik yang berada dalam suatu kelompok atau kelas yang sama. Kegiatan pembelajaran merupakan konteks interaksi yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar dalam rangka menemukan kembali kemampuanya.

Fokus dalam pembelajaran matematika adalah proses matematisasi. Menurut Suryanto (2000:111), proses matematisasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu matematisasi horizontal dan matematisasi vertical. Matematisasi horizontal adalah proses penemuan “ alat” matematis yang dapat membantu siswa dalam menyusun dan memecahkan soal yangmelekat pada situasi kehidupan nyata atau situasi dalam dunia nyata. Sedangkan matematisasi vertical adalah proses mengorganisasikan penegetahuan dalam system matematis, misalnya menemukan metode singkat untuk memecahkan soal, meneukan kaitan antar konsep-konsep matematis dan menerapkan penemuan tersebut.

Pembelajaran matematika merupakan kegiatan eksplorasi mental dalam pkikiran siswa. Proses rekonstruksi dan aplikasi konsep-konsep pengetahuan yang sebelumnya dipelajari siswa dimaksimalkna dalam upaya memperoleh konsep pengethauan baru. Seperti yang dikemukakan carpenter dan Lehrer ( Romberg, 2009: 20) bahwa:

We propose five form of mental activity from which mathematcical understanding emerges: (a) constructing relationships, (b) extending and applying mathematical knowledge, (c) reflecting about experiences, (d) articulating what one knows, and (e) making mathematical knowledge one’s own,

 

Arti yang terkandung dalam kutipan tersebut adalah ada lima bentuk kegiatan mental yang mengakibatkan munculnya pemahaman matematika, yakni: (a) membangun hubungan, (b) memperluas dan menerapkan pengetahuan matrematika, (c) mencerminkan pengalaman terdahulu, (d) mengartikulasikan apa yang telah diketahui, dan (e) mengkonstruksi sendiri penegtahuan matematikanya, dalam hal ini kegiatan mental dalam pikiran siswa merupakan proses pembentukan penegetahuan baru yng telah diketahui sebelumnya.

Pembelajaran matematika merupakan proses interaksi antar guru dan siswa maupun antara siswa dengan siswa, dimana dalam proses tersebut siswa berperan aktif menyelidiki situasi bermasalah, menentukan variabel, memutuskan cara untuk mengukur dan menghubungkan variabel-variabel tersebut, melakukan perhitungan, membuat prediksi dan memferifikasi kemanjuran dari prediksi tersebut dan pada akhirnya terbentuk konsep dan pengetahuan matematika dalam diri siswa

  1. 3.      Kesulitan dalam Belajar Matematika

Siswa yang kesulitan dalam belajar matematika bukan berarti tidak mampu belajar, tetapi mengalami kesulitan tertentu yang menjadikannya tidak siap belajar. Matematika sering menjadi pelajaran yang paling ditakuti di sekolah. Anak dengan gangguan diskalkulia disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam membaca, imajinasi, mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman, terutama dalam memahami soal-soal cerita. Anak-anak diskalkulia tidak bisa mencerna sebuah fenomena yang masih abstrak. Biasanya sesuatu yang abstrak itu harus divisualisasikan atau dibuat konkret, baru mereka bisa mencerna. selain itu anak berkesulitan belajar matematika dikarenakan pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar siswa, metode pembelajaran yang cenderung menggunakan cara konvesional, ceramah dan tugas. Guru kurang mampu memotivasi anak didiknya. Ketidaktepatan dalam memberikan pendekatan atau strategi pembelajaran.

Diskalkulia dikenal juga dengan istilah “math difficulty” karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara kuantitatif yang terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung (counting) dan mengkalkulasi (calculating). Anak yang bersangkutan akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses matematis. Hal ini biasanya ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang melibatkan angka ataupun simbol matematis.

Ciri-ciri:

  1. Tingkat perkembangan bahasa dan kemampuan lainnya normal, malah seringkali mempunyai memori visual yang baik dalam merekam kata-kata tertulis.
  2. Sulit melakukan hitungan matematis. Contoh sehari-harinya, ia sulit menghitung transaksi (belanja), termasuk menghitung kembalian uang. Seringkali anak tersebut jadi takut memegang uang, menghindari transaksi, atau apa pun kegiatan yang harus melibatkan uang.
  3. Sulit melakukan proses-proses matematis, seperti menjumlah, mengurangi, membagi, mengali, dan sulit memahami konsep hitungan angka atau urutan.
  4. Terkadang mengalami disorientasi, seperti disorientasi waktu dan arah. Si anak biasanya bingung saat ditanya jam berapa sekarang. Ia juga tidak mampu membaca dan memahami peta atau petunjuk arah.
  5. Mengalami hambatan dalam menggunakan konsep abstrak tentang waktu. Misalnya, ia bingung dalam mengurut kejadian masa lalu atau masa mendatang.
  6. Sering melakukan kesalahan ketika melakukan perhitungan angka-angka, seperti proses substitusi, mengulang terbalik, dan mengisi deret hitung serta deret ukur.
  7. Mengalami hambatan dalam mempelajari musik, terutama karena sulit memahami notasi, urutan nada, dan sebagainya.
  8. Bisa juga mengalami kesulitan dalam aktivitas olahraga karena bingung mengikuti aturan main yang berhubungan sistem skor.

Faktor-faktor Penyebab:

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi gangguan ini, di antaranya:

  1. Kelemahan pada proses penglihatan atau visual Anak yang memiliki kelemahan ini kemungkinan besar akan mengalami diskalkulia. Ia juga berpotensi mengalami gangguan dalammengeja dan menulis dengan tangan.
  2. Bermasalah dalam hal mengurut informasi

Seorang anak yang mengalami kesulitan dalam mengurutkan dan mengorganisasikan informasi secara detail, umumnya juga akan sulit mengingat sebuah fakta, konsep ataupun formula untuk menyelesaikan kalkulasi matematis. Jika problem ini yang menjadi penyebabnya, maka anak cenderung mengalami hambatan pada aspek kemampuan lainnya, seperti membaca kode-kode dan mengeja, serta apa pun yang membutuhkan kemampuan mengingat kembali hal-hal detail.

  1. Fobia matematika

Anak yang pernah mengalami trauma dengan pelajaran matematika bisa kehilangan rasa percaya dirinya. Jika hal ini tidak diatasi segera, ia akan mengalami kesulitan dengan semua hal yang mengandung unsur hitungan.

Cara Mengatasi:

Diagnosa diskalkulia harus dilakukan oleh spesialis yang berkompeten di bidangnya berdasarkan serangkaian tes dan observasi yang valid dan terpercaya. Bentuk terapi atau treatment yang akan diberikan pun harus berdasarkan evaluasi terhadap kemampuan dan tingkat hambatan anak secara detail dan menyeluruh.

Bagaimanapun, kesulitan ini besar kemungkinan terkait dengan kesulitan dalam aspek-aspek lainnya, seperti disleksia. Perbedaan derajat hambatan akan membedakan tingkat treatment dan strategi yang diterapkan. Selain penanganan yang dilakukan ahli, orang tua pun disarankan melakukan beberapa latihan yang dapat mengurangi gangguan belajar, yaitu:

  1. Memvisualisasikan konsep matematis yang sulit dimengerti, dengan menggunakan gambar ataupun cara lain untuk menjembatani langkah-langkah Atau urutan dari proses keseluruhannya.
  2. Menyuarakan konsep matematis yang sulit dimengerti dan minta si anak mendengarkan secara cermat. Biasanya anak diskalkulia tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara verbal.
  3. Tuangkan konsep matematis ataupun angka-angka secara tertulis di atas kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekadar abstrak. Atau kalau perlu, tuliskan urutan angka-angka itu untuk membantu anak memahami konsep setiap angka sesuai dengan urutannya.
  4. Tuangkan konsep-konsep matematis dalam praktek serta aktivitas sederhana sehari-hari. Misalnya, berapa sepatu yang harus dipakainya jika bepergian, berapa potong pakaian seragam sekolahnya dalam seminggu, berapa jumlah kursi makan yang diperlukan jika disesuaikan dengan anggota keluarga yang ada, dan sebagainya.
  5. Sering-seringlah mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, entah dengan cara menyanyikan angka-angka, atau cara lain yang mempermudah menampilkan ingatannya tentang angka.
  6. Pujilah setiap keberhasilan, kemajuan atau bahkan usaha yang dilakukan oleh anak.
  7. Lakukan proses asosiasi antara konsep yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata sehari-   hari, sehingga anak mudah memahaminya.
  8. Harus ada kerja sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan strategi belajar di kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misalnya, guru memberi saran tertentu pada orang tua dalam menentukan tugas di rumah, buku-buku bacaan, serta latihan yang disarankan. (http://www.ehow.com/how_7866259_teach-math-kids-learning-disabilities.html)

Mengalami kesulitan dengan fakta-fakta dasar.

  1. Kelemahan Komputasi

Banyak siswa, meskipun pemahaman yang baik tentang konsep-konsep matematika, tidak konsisten pada komputasi. Mereka membuat kesalahan karena mereka salah membaca tanda-tanda atau membawa nomor salah, atau tidak dapat menulis angka cukup jelas atau di kolom yang benar. Siswa-siswa ini sering perjuangan, khususnya di sekolah dasar, di mana perhitungan dasar dan “jawaban yang benar” ditekankan. Seringkali mereka akhirnya di kelas remedial, meskipun mereka mungkin memiliki potensi tinggi untuk berpikir matematika tingkat yang lebih tinggi.

  1. Kesulitan Mentransfer Pengetahuan

Salah satu kesulitan yang cukup umum dialami oleh orang-orang dengan masalah matematika adalah ketidakmampuan untuk dengan mudah menghubungkan aspek-aspek abstrak atau konseptual matematika dengan realitas. Memahami simbol apa yang mewakili dalam dunia fisik adalah penting untuk seberapa baik dan seberapa mudah seorang anak akan ingat konsep. Holding dan memeriksa sebuah segitiga sama sisi, misalnya, akan jauh lebih bermakna bagi anak dari sekedar diberitahu bahwa segitiga adalah sama sisi karena memiliki tiga sisi yang sama. Namun anak-anak dengan masalah ini menemukan koneksi seperti ini sungguh-sungguh yang terbaik.

3. Membuat Koneksi

Beberapa siswa mengalami kesulitan membuat koneksi bermakna dalam dan seluruh pengalaman matematika. Misalnya, siswa mungkin tidak mudah memahami hubungan antara angka dan jumlah mereka wakili. Jika semacam ini koneksi tidak dibuat, keterampilan matematika mungkin tidak berlabuh dengan cara apapun berarti atau relevan. Hal ini membuat mereka sulit untuk mengingat dan diterapkan dalam situasi baru.

  1. Lengkap Pemahaman tentang Bahasa Math

Bagi sebagian siswa, matematika cacat didorong oleh masalah dengan bahasa. Anak-anak juga dapat mengalami kesulitan dengan membaca, menulis, dan berbicara. Dalam matematika, bagaimanapun, masalah bahasa mereka bingung dengan terminologi inheren sulit, beberapa di antaranya mereka mendengar mana-mana di luar kelas matematika. Siswa ini mengalami kesulitan memahami arah tertulis maupun lisan atau penjelasan, dan menemukan masalah kata sangat sulit untuk diterjemahkan.

  1. Kesulitan Memahami Visual dan Tata Ruang Aspek dan perseptual.

Masalah yang umum jauh lebih kecil – dan mungkin yang paling parah – adalah ketidakmampuan untuk secara efektif memvisualisasikan konsep-konsep matematika. Siswa yang punya masalah ini mungkin tidak dapat menilai ukuran relatif antara tiga objek yang berbeda. Gangguan ini memiliki kelemahan jelas, karena membutuhkan bahwa seorang siswa bergantung hampir sepenuhnya pada menghafal hafalan dari deskripsi verbal atau tertulis dari konsep-konsep matematika yang kebanyakan orang mengambil untuk diberikan. (http://www.pbs.org/wgbh/misunderstoodminds/mathdiffs.htmlDifficulties withMathematics

  1. 4.      Permasalahan (kasus siswa)

Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah, dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah, khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling.

Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah, aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Kendati demikian, harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Sebagai lembaga pendidikan, justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya.

Oleh karena itu, disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera, penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun, tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah, sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.

Secara visual, kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini:

 

Dengan melihat gambar di atas, kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut, meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Oleh karena itu, kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi.

Sebagai ilustrasi, misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas, sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian, siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin, mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling, maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya, diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya, misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi, keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya, keinginan untuk melanjutkan sekolah, serta hal-hal positif lainnya, meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah.

Perlu digarisbawahi, dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah, dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.

Lebih jauh, meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan, pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. Dalam hal ini, perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). Dalam hal ini, Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya, sebagaimana dalam bagan berikut :

  1. Masalah (kasus) ringan, seperti: membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas ringan. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah.
  2. Masalah (kasus) sedang, seperti: gangguan emosional, berpacaran, dengan perbuatan menyimpang, berkelahi antar sekolah, kesulitan belajar, karena gangguan di keluarga, minum minuman keras tahap pertengahan, mencuri kelas sedang, melakukan gangguan sosial dan asusila. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor), dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah, ahli/profesional, polisi, guru dan sebagainya. Dapat pula mengadakan konferensi kasus.
  3. Masalah (kasus) berat, seperti: gangguan emosional berat, kecanduan alkohol dan narkotika, pelaku kriminalitas, siswa hamil, percobaan bunuh diri, perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater, dokter, polisi, ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus.

Secara visual, penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini:

 

Dengan melihat penjelasan di atas, tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal.

(http://smkn5solo.net/new/penanganan-siswa-bermasalah.html)

 

  1. E.     METOLOGI PENELITIAN
  2. 1.      Obyek Penyelidikan

Nama Siswa     : Rahmat Budi Firhermawan

Sekolah             : MAN Gombong

Alamat Sekolah           :  Jl. Karangbolong KM 01 PO BOX 135, Gombong Kebumen  Jawa Tengah

Kelas/Semester : X/ II

Asal siswa       : Desa Banjararjo, Rt 03 RW III, kecamatan Ayah Kanupaten Kebumen Jawa Tengah.

  1. 2.      Sumber Informasi

Sumber informasi dalam kasus ini, ada beberapa sumber yang dapat diperoleh yaitu:

  1. Siswa itu sendiri

Siswa adalah informan utama yang dijadikan sumber data dan informasi guna kelancaran penyelidikan. Dari pribadi itulah penyelidik mengetahui secara langsung kejadian yang sesungguhnya, baik secara fisik ataupun bukti secara lisan dan tertulis. Kendatipun demikian tidak jarang pribadi memberikan informasi yang tidak valid. Terkadang apa yang disampaikan memutarbalikan vakta yang sesungguhnya, maka dari itu informasi dari sumber lain sangat dibutuhkan.

  1. Guru wali kelas

Wali kelas atau guru merupakan media sumber informasi yang penyelidik rasa berperan andil dalam kegiatan pembelajaran dan lingkungan sekolah. Karena keberadaan siswa tentunya disekolah berada pada tanggungjawab guru dan komponennya. Gurulah yang tahu kondisi yang sebenarnya ketika siswa berada dilingkungan sekolah.

  1. Teman sekelas dan teman dekat

Teman dekat adalah salah satu sumber informasi yang cukup penting, karena dari teman dekatlah informasi dapat diperoleh, sebelum guru dan orang tua mengetahui adanya informasi yang tidak langsung dapat dilihat. Melainkan membutuhkan mediasi dalam proses mengetahui gejala permasalahan yang terjadi. Kondisi anak ketika diluar terlepas dari pantauan guru dan orangtua, maka dari itu teman menjadi salah satu alternatif jalan untuk mendapatkan informasi atau data yang dibutuhkan dalam kasus ini.

  1. Orang tua Siswa

Data atau informasi yang diperoleh dari orang tua sebagai penguat dan sinkronisasi antara informasi yang diperoleh dari guru, teman dan anak itu sendiri. Dengan harapan semua informasi yang diperoleh tadi tidak ada sesuatu yang belum jelas, sehingga akan berpengaruh pada proses pencarian solusi atau jalan keluar.  Keberadaan anak ketika ada dalam lingkungan keluarga atau rumah, orangtualah yang mengetahui secara pastinya.

  1. 3.      Teknik Pengumpulan Informasi

Guna memperoleh informasi yang cukup penyelidik menggunakan beberapa cara dalam pengumpulkan informasi tentang kasus ini. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan informasi ini yaitu:

  1. Observasi

Observasi dilakukan melalui tiga tahap yaitu:

1)      Observasi Lingkungan tempat tinggal.

Observasi Lingkungan tempat tinggal dilakukan guna mengetahui kondisi belajar masyarakat, sosial, ekonomi, moral, dan etika.

2)      Observasi sekolah

Observasi dilakukan guna menunjang informasi yang diperoleh, dan guna memperoleh gambaran kondisi yang sesungguhnya mengenai kondisi lingkungan tempat tinggal, kondisi keluarga termasuk lingkungan rumah dan teman dekat, serta sarana dan prasarana yang menunjang siswa. Dalam hal ini termasuk sarana transportasi dari tempat tinggal menuju sekolah.

Observasi ke sekolah dilakukan guna memperoleh gambaran serta kondisi lingkungan tempat belajar, termasuk saranadan prasarana sekolah, guru, serta hubungan siswa tersebut dengan teman-teman disekolah. Penyelidik mencoba mengamati sesuatu yang memungkinkan menjadi salah satu penyebab dari kasus yang dialami siswa melalui lingkungan sekolah dan sekitarnya.

  1. Wawancara

Wawancara dilakukan kepada:

1)      Siswa yang bersangkutan

2)      Guru wali kelas

3)      Orang tua siswa

4)      Teman sekelas/teman dekat

Wawancara digunakan sebagai instrumen pendukung bagi penyelidik agar dapat lebih memahami proses pemecahan masalah siswa yang berkaitan dengan kasus yang dialami siswa. Instrumen ini berguna sebagai pelengkap informasi yang belum terungkap melalui pengamatan dan informasi yang didapatkan secara tidak langsung. Pada prinsipnya wawancara dilakukan secara bebas terpimpin dimana peneylidik menyiapkan panduan dalam wawancara, namun dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi masing-masing siswa yang diwawancarai. Dengan demikian, wawancara diharapkan dapat memperoleh data yang khusus dan mendalam, namun tetap ada keseragaman pada pokok-pokok permasalahan yang ingin digali dari siswa. Kegiatan wawancara dicatat dalam lembar kertas yang telah disiapkan, namun wawancara ini dilakukan secara tidak terlalu formal. Denagan harapan siswa juga tidak terlalu kaku dan mau menyampaiakn apa yang menjadi keluhan dan permasalahan yang sedang dihadapi secara santai.

 

  1. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan untuk mengetahui prestasi belajar khususnya mata pelajaran matematika diambil dari nilai rapport semester I Tahun 2010/2011 bidang matematika dan nilai ulangan harian diambil dari instrumen assessment informal dalam bentuk inventory yang dibuat oleh guru. Inventory yang dimaksud adalah hasil evaluasi belajar anak bulan november 2010.

 

  1. 5.      Teknik Analisis Data

Analisis data untuk mengetahui pengaruh psikologi anak terhadap prestasi belajar khususnya matematika dengan beberapa faktor terutama : lingkungan, peran orang tua, lokasi tempat tinggal kesekolah, perkembangan kognitif, peran guru dan sekolah dalam mengatasi kesulitan belajar matematika anak. Data-data hasil penelitian tersebut hanya digunakan sebagai pendukung informasi terhadap obyek,  mengidentifikasi permasalahan, menganalisis permasalahan, dan sebagai pertimbangan memberikan solusi.

  1. F.     Pembahasan Hasil Informasi
    1. Hasil Observasi

Setelah penyelidik mengadakan observasi,dapat dilihat pada lampiran 1, diperoleh hasil bahwa siswa tersebut dalam kasus ini atas nama Rahmat Budi Firhermawan, asal  sekolah MAN Gombong Kebumen jawa Tengah, dengan alamat Jalan Karangbolong KM 01 PO BOX 135. Alamat asal: Desa Banjararjo, Rt 03 RW III Ayah Kebumen Jawa Tengah. Penyelidik mengamati daerahnya cukup jauh dari wilayah kota, dengan kata lain jauh dipegunungan dan akses jalan menuju angkutan umum cukup jauh, dengan menempuh perjalanan kaki sekitar ½ jam-an. Akses  jalan cukup rumit, karena kondisi jalan belum aspal dan tidak rata. Kondisi rumah masih cukup memprihatinkan, hanya terbuat dari kayu dan bamboo, sedangkan kondisi ekonomi hanya cukup pas-pasan, dan siswa tersebut tinggal dengan kakek dan neneknya serta kakaknya, Ayahnya sudah tiada sedangkan ibunya menikah lagi dan tidak tinggal bersama siswa tersebut. Pekerjaan orang tuanya adalah tani dan pekerja bangunan. Pada awalnya kondisi pendidikan Rahmat cukup berprestasi, disekolah Dasar dia juga menduduki peringkat tiga besar, kemudian ketika di SMP juga masih berada pada 10 besar, anaknya terkenal baik dan tidak ada tampak sikap yang nakal.

  1. Hasil Wawancara

Setelah dilakukan wawancara  dengan berbagai pihak yang terkait, dapat dilihat pada lampiran 2, diperoleh data bahwa informasi kejanggalan atau terungkapnya kasus ini berawal dari pihak sekolah tepatnya guru wali kelas siswa, yang menelpon keluarga. Informasi tersebut memberikan kabar bahwa ananda Rahmat, (panggilan disekolah) selama semester Satu sudah alpa atau tidak masuk sekolah tanpa keterangan sebanyak 8 kali. Dari kabar tersebut tentu orang tua merasa kaget, karena selama ini anandanya selalu pamit berangkat dari rumah untuk sekolah, kecuali memang pernah tidak masuk karena sakit. Akhirnya pihak orang tua menanyakan hal kabar tersebut kepada anandanya setelah pulang sekolah. Ketika ditanya oleh orang tuanya dia belum berterus terang dan bilang tetap masuk sekolah, dengan kata lain menyalahkan kabar dari gurunya. Sebagai orang tua, mereka tidak ingin bersikap main hakim sendiri. Maka dari itulah orangtua Rahmat berusaha mencari tahu baik dari pihak sekolah ataupun teman yang biasa bersama anandanya.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup, akhirnya orang tua siswa membicarakan baik-baik permasalahn anandanya dengan konsekuensi ada perbaikan dari anaknya. Ternyata setelah sekitar satu bulan berjalan, dan banyak waktu agak luang karena sekolah tinggal menunggu pangambilan raport semester satu, orang tua tidak terlalu perhatian dengan kondisi anandanya. Rahmat sering pulang sekolah hampir menjelang magrib, dan gejala itu terbukti ketika pengambilan raport ternyata nilai semester satu mengalami penurunan drastis jauh dari harapan orangtuanya. Yang lebih memprihatinkan adalah tingginya alpa mencapai 12x dan terdapat 4 mata pelajaran yang nilainya kurang dari KKM, termasuk salah satunya adalah matematika.

Dari awal itulah kemudian kasus ini sedikit-demi sedikit terungkap, ketika orang tuanya di panggil oleh bagian administrasi ternyata ada kekurangan SPP dan SOP yang belum dibayarkan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak walikelas dan siswa itu sendiri, penyelidik mendapatkan informasi bahwa selama ini Rahmat tidak masuk sekolah iu karena main Playstation di “GARUDA” dekat sekolah tepatnya diwilayah gombong kota dan sering “nongkrong” bersama teman luar sekolah. Untuk selanjutnya adalah masalah administrasi sekolah yang tidak dibayarkan, ternyata uang yang diberikan oleh orang tuanya dipakai untuk main PS dan Nongkrong bersama temanya. Setelah dikonvermasi lebih jauh sebab lain yang mebuat Rahmat menjadi seperti sekarang ini adalah, sebenarnya dari awal Rahmat merasa terpaksa sekolah di MAN, karena keinginanya adalah sekolah di SMK, karena masalah biaya akhirnya Rahmat dimasukan di MAN. Berlanjut dari rasa ketidaksenangan tersebut Rahmat menjadi malas masuk sekolah, sehingga berangkatnya sering terlambat dan karena merasa malu tidak masuk kelas.Selanjutnya kondisi fisik Rahmat yang lain dari temanya, ternyata menjadi salah satu faktor penyebab kasus ini. Umur Rahmat seumuran sama dengan teman kebanyakan, namun fisiknya layaknya anak usia SD, Berat badanya sekarang baru mencapai 28 s.d 30 Kg, dan tinggi badanya baru mencapai kurang lebih 140 cm. Gambar dapat dilihat pada lampiran 3.

Alasan lain yang menambah permasalahan adalah kondisi rumah yang jaraknya cukup jauh dari sekolah dan harus menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, sehingga kondisi fisik sudah capek dan tidak dapat konsentrasi lagi dalam belajar.  Perjalanan dari rumah menuju angkutan memakan waktu 1/2 jaman dengan jalan kaki, terkadang dia ikut motor bersama anak sedesa yang sekolah di wilayah Gombong. Ditambah lagi kondisi keluarga, khususnya tempat tinggal yang kurang mendukung suasana belajar, karena dia hanya tinggal dengan kakek dan neneknya yang kurang berpendididkan, kondisi ekonomi yang hanya pas-pasan. Ketika ditanya mengapa tidak kos saja, ternyata dulu orang tuanya pernah mencarikan kos, dan berjalan sekitar 3 bulanan, kemudian mita pulang pergi saja karena tidak betah tinggal dikos.

Terkait masalah dalam matematika, yang menjadi kendala kesulitan belajar matematika bagi Rahmat adalah masalah-masalah dasar yang berhubungan dengan faktor-faktor: 1) kelemahan komputasi, 2) Kesulitan Mentransfer Pengetahuan, 3) Membuat Koneksi, 4) Pemahaman tentang Bahasa Math, 5) Kesulitan Memahami Visual dan Tata Ruang Aspek dan perseptual. Faktor lain adalah pembelajaran yang membosankan dengan metode yang kurang melibatkan siswa secara aktif dalam mengeksplor ide dan kreatifitas diri. Disamping itu anada Rahmat ini memang anaknya tergolong pendiam dan terbuka baik dengan guru ataupun dengan teman-temanya.

Dari hasil wawancara tersebut penyelidik mendapakan  sedikit gambaran tentang apa yang sebenarnya menjadi permasalahan dan bagaimana langkah yang bisa disarankan untuk dijadikan solusi kepada Rahmat dan keluarganya. Ketika ditanya sebenarnya kendala yang dihadapai selain matematika adalah pelajaran Bahasa arab dan Qur’an Hadits yang dirasa sulit, karena Rahmat tidak mempunya basic dari SMP-nya. Bahkan ada guru yang pernah menyobek saku bajunya dengan kasar, karena masih dipasang BAT “OSIS”, yang seharusnya dipasang BAT “MAN”dia merasa guru itu tidak dapat memberikan tauladan yang baik karena menyobeknya dihadapan teman-temanya,sehingga dia merasa malu.

  1. G.    Kesimpulan

Dari pembahasan hasil informasi yang didapatkan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, setiap permasalahan pasti ada sebab dan akibatnya. Sebab itulah yang mengakibatkan seseorang individu dalam hal ini adalah siswa  mengalami sebuah permasalahan sebagai akibat dari sesuatu yang diinginkanya, namun terjadi kesenjangan antara harapan dengan kenyataan yang didapatkanya. Permasalahan dapat disebabkan dari berbagai pihak, diantaranya:

  1.  Latar belakang keluarga yang kurang mendukung sarana dan prasarana pendidikan, kurangnya tingkat pengetahuan serta pendidikan orang tua
  2.  Lingkungan pergaulan yang kurang terpantau oleh orang tua
  3.   Ekonomi keluarga yang hanya pas-pasan, sehingga kurang terpenuhi kebutuhan dengan layak
  4. Sekolah yang tidak menjadikan siswa nyaman dan merasa penting
  5.   Metode pengajaran yang diberikan oleh guru, belum memadukan keterlibata siswa secara aktif serta kurangnya respon guru dalam memahami perbedaan individu masing-masing siswa.
  6. Adanya beban mental dan fisik dari siswa yang merasa minder dengan perbedaan yang dimilikinya.
  7. Topografi lingkungan tempat tinggal serta akses transportasi menuju sekolah membutuhkan waktu yang cukup melelahkan.
  8. H.    Saran
    1. Bagi Orang Tua
      1. Agar orang tua lebih bisa memahami apa yang diinginkan anandanya, dengan banyak memberikan pengertian tentang kondisi keluarga, ekonomi
      2. Memperhatikan/ memantau pergaulanya baik bersama teman sekolah ataupun teman diluar sekolah.
      3. Menjelaskan dan memberikan pengertian pentingnya bersyukur atas nikmat dan karunia yang diberikan Alloh SWT kepada kita.
      4. Memberikan dan mengajari rasa tanggungjawab sebagai siswa dan sebagai anak
      5. Jangan terlalu mempercayakan hal-hal yang bersifat urgen dalam hal ini adalah keuangan sekolah
      6. Menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan pihak sekolah dan guru
      7. Mencoba kembali menyarankan ananda untuk kos, agar fisik tidak terlalu capek sehingga dapat konsentrasi dalam belajar.
      8. Bagi sekolah
        1. Agar menjalin hubungan yang baik dengan siswa dan orang tuanya
        2. Berusaha memahami kondisi siswa termasuk latar belakang keluarga kondisi sosio-ekonomi
        3. Agar diterapkan system disiplin sekolah yang dapat membuat efek jera kepada siswa
        4. Memperbaiki sikap dan perhatian guru kepada siswanya
        5. Menanamkan /memberikan metode pembelajaran yang tidak membosankan bagi siswa.
        6. Mengadakan pertemuan rutin antara orang tua dan sekolah paling tidak dalam satu semester, sehingga perkembangan informasi anak dapat terpantau baik oleh pihak sekolah ataupun orang tua.

DAFTAR PUSTAKA

 

Agus Mahendro dan among Ma’mun (1998) Teori belajar dan Pembelajaran Motorik, Bandung: Andira

 

Arends, R.I., & Kilcher, A. (2010) Teaching for Student learning: becoming an accomplished teacher. New York : Routledge

 

Cobern,W.W. ( 1993). Contextual constructivism: The impact of culture on the learning and teaching of science. Dalam K.G Tobin (Ed.), The practice of constructivism in science education (pp.51-69). Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates

 

How to Teach Math to Kids With Learning Disabilities

http://www.ehow.com/how_7866259_teach-math-kids-learning-disabilities.html

 

Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E  (2004). Models of teaching (7thed). Boston, MA: Pearson Education.

 

Muhibbin Syah,(1995) Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Twrbaru, Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Math learning difficulties and disabilities.

http://www.mathlearningdifficulties.com/DavidMills,Ph.D.,M.A.(physics, psychology)   [diakses tanggal 22 Mei 2011]

 

Nitko, A. J & Brookhart, S.M. (2007) Educational assessment of student. New Jersey: Pearson Education

  PenanganansiswaBermasalah

http://smkn5solo.net/new/penanganan-siswa-bermasalah.html [diakses 23 mei 2011]

 

 

Romberg, T.A., & Kaput, J.J ( 2009). Mathematics worth teaching, mathematics worth understanding. Dalam E. Fennema & T.A. Romberg (Eds.), Mathematics classrooms that promote understanding (pp.3-18) Mahwah, NJ: taylor & Francis e-library.

 

Suryanto (2000), Pendidikan matematika realistic : suatu inovasi pembelajaran matematika, Cakrawala Pendidikan, XIX 3, 109-116.

 

Syaefudin suhadi. (2009). Perbandingan keefektifan pembelajaran matematika dengan pendekatan realistic dan model belajar kooperatif learning tipe STAD pada Siswa MTS. Tesis Magister, tidak diterbitkan, UNY, Yogyakarta.

 

Tomei (2010). Designing instruction for the traditional, adult, and distance learner : a new engine for technology-based teaching.  USA: Information science Reference.

 

What Can Stand in the Way of a Student’s Mathematical Development?

http://www.pbs.org/wgbh/misunderstoodminds/mathdiffs.htmlDifficulties withMathematics [diakses tanggal 23 Mei 2011]

 

 

 

 

 

 

Lampiran: 1

  1. Lembar Observasi Lingkungan sekitar termasuk kondisi  orang tua tempat tinggal

Nama siswa     : Rahmat Budi Firhermawan

Sekolah           : MAN Gombong/ II

Alamat Sekolah           : Jl. Karangbolong KM 01 PO BOX 135, Gombong Kebumen  Jawa Tengah

Kelas/Semester  : X/ II

Asal siswa            : Desa Banjararjo, Rt 03 RW III, kecamatan Ayah Kanupaten Kebumen Jawa Tengah.

Nama Ayah         : Nurrohman (Alm)

Nama Ibu             : Samiyah

Jumlah Saudara   : 1

Anak ke               : 2

Teman dekat        : Faisal dan Susi

Tinggal Dengan   : Kakek dan nenek

Kondisi keluarga : Ekonomi pas-pasan

Rumah                 : masih terbuat dari kayu

Pekerjaan Ortu     : Tani dan pekerja bangunan

Transportasi         : tidak lancar (angkutan)

Kondisi wilayah  : desa, jauh dari wilayah kota

Kondisi jalan       : belum aspal

Akses menuju sekolah: jalan kaki sampai tempat angkut sekitar ½ jam

 

One Response to CASE PAPER (KASUS SISWA DILIHAT DARI PENURUNAN PRESTASI MATEMATIKA, KASUS MEMBOLOS DAN PEYELEWENGAN DANA ADMINISTRASI SEKOLAH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *