DALAMNYA DIMENSI KETUHANAN DALAM PERADABAN DUNIA

DALAMNYA DIMENSI KETUHANAN DALAM PERADABAN DUNIA

Oleh : Nuryadi, S.Pd.Si

 

Maksud dari dimensi Ketuhanan yaitu, bahwa sumber dan tujuan peradaban dunia adalah Ketuhanan. Disisi lain tujuan Ketuhanan dan peradaban dunia tersonifikasi dari harapan terhadap keridhaan Allah, mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Setiap muslim harus menjadi hamba yang ikhlas dan ridha kepada Allah SWT. Sehingga dia akan beruntung dengan balasan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, menuruh kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah” (Ali Imron :110)

Allah juga berfirman,

“Katakanlah : sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi_nya. Dan itulah yang diperintahkan kepadaku. Dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah.”(Al-An’am :162-163)

Untuk itu, tidaklah heran jika kita mendapatkan motif agama dan tujuan ketuhanan menjadi penggerak serta pemandu asasi bagi peradaban dunia. Al-Qur’an telah mengajarkan dua hal fundamental :

  1. Membaca. Membaca adalah kunci ilmu. Sedangkan ilmu adalah fondasi pertama peradaban.
  2. Membaca harus disertai dengan nama Allah. Karena, Dialah pencipta alam dan manusia, serta pendidik dan guru yang mengajarkan hal yang belum diketahui oleh manusia. Agar mereka memulai seluruh aktivitas  dengan nama Allah. Setiap perkara yang tidak dimulai dengan nama Allah menjadi sia-sia.

Ulama menegaskan bahwa wahyu dan akal adalah dua alat petunjuk untuk mencapai kebenaran. Dalam buku yang berjudul “Adz-Dzari’ah Ila Makarim Asy-Syari’ah,” Ar-Raghib Al-Ashfahani menulis, “ Dalam ciptaan-Nya, Allah mempunyai dua utusan: pertama: Internal yaitu akal; kedua: Eksternal, yaitu Nabi. Tidak ada seorang pun yang berhak mengambil utusan internal tetapi meninggalkan utusan Eksternal. Utusan internal bisa mengetahui kebenaran utusan eksternal.

Untuk itulah Allah mengajak orang yang meragukan keesaan-Nya dan kebenaran utusan-Nya untuk menggunakan akal, yaitu menyuruh orang tersebut untuk minta tolong kepada akal. Akal adalah pemimpin, sedangkan agama adalah pendukung. Kalaulah tanpa akal, agama tidak akan ada. Serta kalaulah tanpa agama, akal akan menjadi bingung. Seperti firman Allah :”Keduanya adalah cahaya diatas cahaya” (An Nur:35)

Dengan hal itulah peradaban dunia harus berdiri diatas agama dan akal. Juga dengan tujuan yang selalu berkaitan untuk menolong dan berbakti kepada agama serta mengharap ridha Allah. Dengan demikian, nilai Ketuhanan dan agamapun mengakar dengan kuat di dalam kehidupan serta peradaban dunia. Dalam peradaban itulah bumi bisa berhubungan dengan langit, dunia dengan akherat, materi dengan ruhani, dan makhluk dengan Sang pencipta.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *